Ide Untuk Pembuatan Buku Ajar

Ide Untuk Pembuatan Buku Ajar

 

Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar seharusnya merupakan ladang pangsa buku yang sangat besar, apalagi lebih 80% dari penduduk Indonesia bisa membaca. Namun sangat disayangkan jumlah judul buku yang diterbitkan setiap tahunnya sangat sedikit, hanya 7000 judul setahun. Bandingkan dengan Amerika Serikat yang jumlah penduduknya tidak terlalu jauh berbeda mampu menerbitkan 75 ribu judul buku. Rendahnya produksi judul buku di Indonesia disebabkan banyak faktor. Selain karena daya beli masyarakat yang memang renah, ada lagi faktor yang sangat menentukan yaitu budaya membaca. Berdasarkan data (sumber: www.ganeca.exact.com), minat baca masyarakat Indonesia untuk kawasan Asia Tenggara berada paad posisi keempat, setelah Malaysia, Thailand, dan Singapura. Boleh jadi, rendahnya kebiasaan membaca tersebut, erat kaitannya dengan pendapatan perkapita bangsa ini, yang lebih rendah dari keempat negara tetangga. Pendapatan per kapita warga Singapura pada tahun 2002 sebesar 24.000 dolar AS, Thailand 6.900 dolar AS, Malaysia 9.300 dolar AS, sementara Indonesia hanya 3.100 dolar AS.

Dari sekian ribu judul buku yang diterbitkan Indonesia setiap tahun, berapa produksi buku ajar (textbook ) Perguruan Tinggi (PT)? Penulis belum menemukan data pasti berapa jumlah buku ajar PT yang diterbitkan setiap tahun, tetapi dipastikan jumlah buku ajar PT relatif sedikit jumlahnya dibandingkan buku ajar untuk tingkat SD, SMP, dan SMA. Indonesia dengan jumlah dosen yang cukup banyak, tidak sedikit diantaranya yang berpengalaman dalam mengajar maupun meneliti. Pengalaman yang dimiliki para dosen tersebut seharusnya merupakan modal dasar untuk menulis buku. Apalagi dosen merupakan orang yang seharusnya paling tepat dalam menulis buku ajar, karena dia yang paling memahami materi apa yang harus disampaikan kepada mahasiswa. Selain itu, dosen yang berpengalaman tentu sudah mengenal state of the art bidang keilmuannya.

Namun, sangat disayangkan jumlah buku yang ditulis oleh dosen masih sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah dosen yang tercatat di PT. Ada banyak faktor mengapa produktifitas dosen dalam menulis buku rendah, antara lain: mitos bahwa menulis buku perlu bakat (bakat menulis), merasa tidak punya waktu, dan adanya anggapan bahwa menulis buku tidak terlalu menguntungkan dibandingkan mengerjakan proyek.

Banyak orang yang enggan menulis, baik artikel di media massa ataupun buku. Selalu saja orang berargumentasi apakah dalam menulis itu perlu bakat atau tidak. Sesungguhnya perdebatan apakah perlu bakat dulu baru bisa menulis tidaklah berguna. Setiap orang pada dasarnya bisa menulis. Menulis puisi, menulis surat pembaca, menulis naskah pidato, menulis ringkasan kuliah, menulis laporan praktikum, menulis bahan presentasi, dan sebagainya menunjukkan bahwa orang tersebut punya “bakat” menulis. Bagi dosen perguruan tinggi tentu sudah biasa menyiapkan bahan kuliah berupa ringkasan bahan kuliah di kertas, atau menulis bahan kuliah dengan Power Point. Apalagi kalau sudah sering menulis makalah untuk konferensi, seminar, atau jurnal, semua ini akan memudahkan kita untuk menulis buku. Jadi, persoalan menulis buku tidak terletak pada bakat, tetapi lebih pada masalah mental. Singkirkan anggapan bahwa menulis itu sulit. Yakinlah bahwa semua orang mempunyai bakat menulis. Apapun bisa dipelajari termasuk menulis buku. Kuncinya terletak pada kemauan. Dimana ada kemauan, disitu ada jalan.

Persoalan kedua yang membuat orang enggan menulis buku adalah kesibukan atau tidak punya waktu. Waktu memang menjadi persoalan bagi orang yang sibuk, namun asal ada kemauan yang kuat, persoalan waktu bisa diatasi. Asalkan sesorang mengelola waktunya secara efektif, maka sesibuk-sibuknya seseorang pasti dia punya waktu luang untuk menulis. Waktu sisa yang hanya 10 menit sekalipun sangat berharga untuk menuliskan beberapa kalimat. Penulis buku laris seperti Rhenald Kasali, Gede Prama, Aa Gym, Bondan Winarno, dan sebagainya adalah orang-orang yang sibuk, tetapi toh mereka mampu menghasilkan banyak buku. Yang penting adalah orang harus mau menyisihkan waktunya setiap hari untuk menulis, maka cepat atau lambat orang tersebut mampu menghasilkan buku.

Jadi, sejak awal kita harus mengkonstruksi mental bahwa menulis buku itu tidak sulit. Yang penting adalah tekad yang bulat dan kesediaan menyisihkan waktu untuk menulis. Persoalan teknik menulis bisa dipelajari dari berbagai buku asalkan tekun berlatih. Ada orang yang berbakat menulis tetapi tidak pernah kita jumpai karyanya, tetapi ada pula orang yang merasa tidak berbakat namun karena mempunyai kemauan yang kuat dan tekun berlatih, akhirnya ia mampu menghasilkan buku dan karya lain yang bermakna Dalam hal ini sangat pas kita meminjam istilah Aa Gym, yaitu dalam melakukan sesuatu pakailah prinsip 3M, yaitu Mulailah dari diri sendiri, Mulailah dari hal yang kecil, dan Mulailah hari ini juga.

 

 

BAB 1

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang Penyusunan

 

Pembelajaran dan buku ajar merupakan dua hal yang saling melengkapi. Pembelajaran akan berlangsung secara efektif jika dilengkapi dengan media pembelajaran, salah satunya adalah buku ajar. Buku ajar dapat dirancang serta digunakan dengan baik jika memperhatikan sejumlah prinsip dalam pembelajaran. Kompenen pembelajaran terdiri atas mahasiswa, pengajar atau pendidik, materi/bahan ajar, cara penyajian bahan ajar, dan latihan. Buku ajar yang baik telah mencerminkan kesatuan yang pada atas seluruh komponen, sehingga bahan ajar, cara penyajian bahan ajar, dan latihan bahan ajar dapat dengan mudah dipahami dan dipraktekan, baik oleh mahasiswa maupun pengajar.

Selama ini prinsip mendasar yang harus mendapatkan perhatian besar adalah bahan ajar. Perhatian yang besar terhadap materi dan penyampaiannya sesuai dengan target, telah mengakibatkan buku ajar lebih mengutamakan hasil dan mengabaikan proses.

Buku ajar dibuat sedemikian rupa sebagai wadah tempat bahan ajar dihapalkan, sehingga kemampuan akhir yang dimiliki mahasiswa hanya sebatas kemampuan menghapal. Masalah terbesar atas kesalahkaprahan rancangan bangun buku ajar semacam ini adalah, ketika seorang mahasiswa dihadapkan pada masalah yang berbeda, mahasiswa tidal mampu memecahkan masalah dan mengambil keputusan dengan baik. Akhirya, buku ajar yang dirancang mengikuti prinsip ini hanya memperkuat anggapan bahwa belajar tentang, misalnya agama adalah belajar tentang agama. Dan bukan belajar agama untuk menjadi manusia seutuhnya.

Pada hakikatnya, buku ajar merupakan media pembélajaran suatu disiplin ilmu atau pengetahuan tertentu. Sebagai media, buku ajar harus berisikan bahan ajar, cara penyajian bahan ajar, dan model latihan bahan ajar. Materi yang dijadikan bahan ajar disajikan dengan cara tertentu, sehingga mahasiswa memiliki kemampuan yang berkenaan dengan pemahaman, keterampilan, dan perasaan sebagai refleksi atas kemampuan tersebut, mahasiswa akan dapat memecahkan persoalan — persoalan, baik yang diajukan dalam latihan maupun persoalan dalam kehidupan nyata. Buku ajar juga harus mampu membantu pengajar dalam meningkatkan cara mengajarnya, dan membantu mereka dalam meningkatkan kemampuan mahasiswa.

Secara teoritis, seorang pengajar dianggap memiliki pengalaman mengerjakan materi keilmuan tanpa buku ajar. Akan tetapi, cara demikian tidak akan berlangsung lama. Banyak pengajar yang memiliki keterbatasan sejumlah untuk menambah materi pelengkap, sehingga mau tidak mau mereka dalam mengajar hanya mengandalkan buku ajar semata. Hal ini berarti buku ajar merupakan media pembelajaran yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, buku ajar harus dirancang sebaik-baiknya, disusun seefektif dan seefisien mungkin sehingga mahasiswa dan pengajar terbantu dalam proses belajar mengajar disiplin ilmu tertentu. Berdasarkan pandangan tersebut, diperlukan suatu pedoman penulisan buku ajar sehingga buku ajar yang disusun dapat memenuhi standar kualitas. Buku pedoman ini disusun dengan merujuk pada pedoman penulisan buku ajar yang dikeluarkan Dirjen Dikti, Pusat Perbukuan Depdiknas ditambah oleh sejumlah sumber lain yang berkenaan dengan penyusunan buku ajar.

 

B. Tujuan Penyusunan

Tujuan penyusunan pedoman penulisan buku ajar adalah untuk memberikan panduan buku ajar bagi para penulis, penelaah, pengguna buku ajar seluruh mata kuliah di lingkungan perguruan tinggi yang memenuhi standar kualitas.

 

 

 

 

BAB II

BUKU AJAR

 

  1. Pengertian Buku Ajar

 

Buku ajar adalah jenis buku yang diperuntukan bagi mahasiswa sebagai bekal pengetahuan dasar, dan digunakan sebagai sarana belajar serta dipakai untuk menyertai kuliah. Alih bahasa buku teks menjadi textbook tidak cocok untuk menamai jenis buku semacam itu, istilah buku ajar dipakai sebagai padanan atas istilah textbook.

 

B. Fungsi Buku Ajar

 

Buku ajar menyediakan fasilitas bagi kegiatan belajar mandiri, baik tentang substansinya maupun tentang penyajiannya. Penggunaan buku ajar merupakan bagian dari budaya buku, yang menjadi salah satu tanda masyarakat maju. Dipandang dari proses pembelajaran, buku ajar mempunyai peran penting. Jika tujuan pembelajaran adalah untuk menjadikan mahasiswa memiliki berbagai kompetensi, maka perancangan buku ajar harus memasukan sejumlah prinsip yang dapat meningkatkan kompetensi yang hendak dimiliki mahasiswa.

Salah satu alat yang dapat digunakan untuk mencapai hal tersebut adalah perancangan sejumlah soal latihan yang berbasis pencarian informasi secara terprogram. Adapaun manfaat buku ajar tidak hanya bagi mahasiswa, namun pengajar pun akan terbantu. Pengajar memiliki kebebasan dalam memilih, mengembangkan, dan menyajikan materi. Semua itu merupakan wewenang dan kewajiban profesionalnya. Buku ajar yang baik juga memberikan sejumlah alternatif materi yang dapat digabungkan dengan materi dari sejumlah sumber lainnya. Cara penyajian dalam sebuah buku ajar dapat dijadikan contoh untuk menyajikan bahan dalam kegiatan pembelajaran mahasiswa.

C. Menggunakan Buku Ajar .

 

Buku ajar dapat digunakan dengan baik, para dosen perlu menelaah bagian- bagian yang ada dalam buku ajar, mulai dari judul buku, daftar isi, judul — judul setiap bab, bentuk soal dan latihan, sehingga bagian akhir dari buku ajar. Penelaahan singkat tentang isi buku akan menimbulkan minat dan perhatian bagi para mahasiswa dan para pembaca untuk memahami isi buku.

Kualitas buku ajar tergantung pada kegunaannya untuk keperluan belajar mahasiswa. Semakin banyak keperluan yang dapat dilayani, semakin baik buku ajar tersebut. Misalnya, memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk belajar sesuai dengan kecepatannya sendiri; untuk melakukan pendalaman; untuk mengadakan revisi dan refleksi; atau untuk mencatat hal — hal penting bagi keperluan lain. Kualitas buku ajar dengan demikian tidak hanya terletak pada rancangan bangunan buku itu sendiri, namun juga pada kebermanfaatannya. Buku ajar yang baik bukan sekedar kumpulan ide, namun rancangan terprogram dan sistematik sehingga menjadi karya yang bemanfaat, ringkas namun padat makna.

 

D. Kaitan Buku Ajar dengan Kurikulum

 

Buku ajar dirancang sesuai dengan kurikulum, namun hubungan ini tidak bersifat kaku. Kurikulum tidak bersifat menentukan segala sesuatu. Kurikulum masih memerlukan penafsiran, penjelasan, perincian, perlengkapan, pengayaan, dan pemanduan terhadap kompetensi hasil belajar, indikator dan materi pokok. Dalam penyusun buku ajar, seorang penulis perlu mempersiapkan silabus dan metode pembelajaran, dan mempersiapkan bahan-bahan serta cara penyajiannya, yang tidak dicantumkan dalam kurikulum. Fungsi kurikulum pada dasamya adalah sebatas garis-garis besar haluan pembelajaran (GBHP) yang bersifat selalu berubah.

Oleh karena itu, penyusunan buku ajar harus didasarkan atas prinsip dinamika kualitas atau prinsip perbaikan kualitas yang seimbang. Prinsip ini merupakan jawaban atas sifat dinamis dari kurikulum. Begitu terjadi perubahan kurikulum, buku ajar dapat disesuaikan dcngan perubahan, dengan cara merevisinya. Prinsip perbaikan kualitas berkelanjutan akan mendorong penulis untuk selalu melakukan pengawasan kualitas dan perubahan secara bertahap atas rancangan buku: isi, materi, soal, dan latihan dan sebagainya. Oleh karena itu, dikenal adanya istilah buku ajar edisi revisi 1 dan 2 atau buku ajar edisi baru dengan penambahan…”, dan lain — lain.

 

E. Landasan Penyusunan Buku Ajar

 

Penyusunan buku ajar yang baik adalah berlandaskan:

  1. Landasan Keilmuan.
  2. Landasan keterbacaan materi dan ketatabahasaan.

 

1. Landasan Keilmuan

 

Salah satu landasan penyusunan buku ajar adalah landasan keilmuan mata kuliah tertentu. Pernyataan yang harus diajukan ketika merancang buku ajar adalah mata kuliah berada diranah ilmu apa. Dengan mengetahui landasan kelimuan, mudah bagi penulis untuk mengetahui cakupan serta susunan buku ajar yang hendak ditulis. Penafsiran terhadap materi dalam kurikulum pun, pada tahap ini, dilakukan dari struktur keilmuan yang digunakan. Misalnya, mata kuliah kemahiran berbahasa Indonesia berada dalam ranah keilmuan Bahasa Indonesia. Atau mata kuliah Pengambilan Keputusan akan berada dalam ranah keilmuan Teori dan Prilaku Organisasi. Disiplin yang terakhir adalah disiplin gabungan sejumlah ilmu seperiti Psikologi dan Sosiologi.

Mengetahui dengan baik titik tolak keilmuan sebuah buku ajar, akan sangat membantu penulis dalam merancang secara efektif, efisien, dan terprogram jalinan setiap bab dalam buku ajar. Penulisan buku ajar pada dasarnya tidak jauh berbeda dari menulis karya ilmiah. Patokan keilmuan yang dlkenal secara universal adalah patokan keilmuan berpilar pada epistemologis, ontologis, dan aksiologis. Prinsip ketaatasasan keilmuan dengan demikan juga akan terdapat pada buku ajar. Prinsip demikian dirancang untuk menjawab: l) apa yang hendak dibahas, (2) mengapa penting membahas, 3) bagaimana membahas dan menyajikan, dan 4) untuk siapa pembahasan ditujukan. Berdasarkan pandangan diatas, buku ajar dirancang berlandaskan sejumlah prinsip berikut.

  1. Prinsip akar rumput: penentuan mata kuliah dinilai dari disiplinkeilmuan yangdiketahui, dikuasai, dan sangat dikuasai.
  2. Prinsip kejelasan tujuan/kebermaknaan: penentuan tujuan penulisanatau perancangan buku ajar berdasarkan penentuan keunggulankompetensi apa yang hendak diraih. Tujuan Berlandaskan:
    1. Motivator/pendorong seseorang untuk mengembangkan daya nalar dankemampuan analisis (prinsip motivasi dan keberfungsian).
    2. Motivator/ pendorong seseorang untuk menjadi akademisi-ilmuan yangmerdeka (prinsip pembangunan karakter).

c. Prinsip ketaat asasan keilmuan: Cetak biru buku ajar mengikuti patokan keilmuan yang berpilar pada ontologis, eptistimologis, dan aksiologis. Mencari jawaban atas pernyataan:

  1. Apa yang hendak dibahas?
  2. Mengapa penting membahas’?
  3. Bagaimana membahas dan menyajikan? “
  4. Untuk siapa pembahasan ditujukan’?

d. Prinsip diferensasi: penentuan sesuatu yang berbeda yang akan disampaikan untuk mencari jawaban atas pernyataan:

  1. Sesuatu yang berbeda apa yang dapat saya sampaikan?
  2. Bagaimana cara saya menyampaikan sesuatu yang berbeda dengancara yang berbeda?

e. Prinsip keotentikan penentu metode/model perancangan buku ajar berdasarkan:

1. Rancangan asli sendiri:

  1. Diktat yang diperluas.
  2. Naskah buku ajar murni.
  3. Tesis/ Desertasi yang dimodifikasi.

2. Model karya penulis lain.

  1. Model yang meniru rancangan buku ajar orang lain.
  2. Model modifikasi buku ajar.

f.Prinsip standarisasi: mengikuti standar aturan penulisan yang berlaku universal dengan kualitas sebuah buku ajar bergantung pada tingkat kesesuaian dengan standar yang ada.

g.Prinsip dinamika kualitas atau prinsip perbaikan berkelanjutan: penerapan dari pandangan bawa kualitas buku ajar adalah pencapaian berkelanjutan, maka penentuan standar uji kualitas dilakukan dengan mekanisme sewa cetak/kualitas secara mandiri atau melibatkan pihak luar.

h. Prinsip keseimbangan teori dan praktik: penentuan bagaimana keseimbangan antara teori dan praktik dapat terlihat pada sebuah buku ajar dengan menentukan tingkat proporsi yang tepat antara pandangan filosofis, teori, dan kensep dengan sejumlah contoh aplikatif dunia nyata.

i. Prinsip komunikatif: cetak biru buku ajar bersifat komunikatif. Buku ajar yang baik memiliki metode penyampaian materi yang bersifat lugas, akademis, ilmiah, edukatif, dan komunikatif. Semakin komunikatif sifat sebuah buku ajar, semakin baik buku ajar dapat diterima.

 

2. Landasan Keterbacaan Materi dan Ketatabahasaan

 

Landasan selanjutnya adalah keterbacaan materi dan ketatabahasaan yang digunakan. Hal hal yang harus dipahami dalam penyusunan buku ajar terkait dengan bagaimana materi harus diolah agar memberikan kemudahan bagi mahasiswa untuk memahaminya, dan bagaimana panjang dan suasana kata, frasa, kalimat, dan wacana tidak menyulitkan mereka. Buku ajar yang memberi kemudahan kepada mahasiswa untuk memahaminya disebut sebagai buku ajar yang mempunyai keterbacaan yang baik. Dengan demikian, penting sekali untuk merancang buku ajar berbasis komunikatif.

 

F. Anatomi Bukui Ajar

Pada umumnya, buku ajar memiliki anatomi buku yang terdiri atas:

  1. Halaman pendahuluan
  2. Halaman nas (batang tubuh buku)
  3. Halaman penyudah

 

1. Halaman Pendahulu

Halaman pendahulu terdiri atas halaman judul, daftar isi, daftar gambar, daftar tabel, pengantar, dan prakata.

  1. Halaman judul adalah halaman yang memuat judul buku, pengarangnomor penerbitan (edisi) atau nomor jilid, nama dan tempat penerbitan,dan tahun penerbitan.
  2. Daftar isi, merupakan petunjuk bagi pembaca tentang topik dan nomor halaman di mana topik tersebut berbeda. Daftar isi hanya memuatjudul bab.
  3. Daftar gambar dan daftar tabel memuat informasi tentang keberadaangambar dan tabel yang disajikan dalam isi buku ajar.
  4. Pengantar (foreword), adalah penjelasan yang ditulis orang lain ataspermintaan penulis atau penerbit untuk memperkenalkan penulis atausubjek yang ditulis.
  5. Prakata, adalah penjelasan yang ditulis oleh penulis yang biasanya memuat: alasan mengapa penulis tergugah mengapa menulis buku, isi buku, cara pembahasannya, kelebihan dari buku lain. Dan susunannya,siapa calon pembaca dari buku ajar yang disusun, pengetahuan yangharus dimiliki oleh pembaca sebagai persyaratan agar dapat memahamiisi buku. Cara terselesaikannya buku, siapa yang membantu ataumendorong penulis buku, ucapan terimakasih, dan harapan penulis tentang bukunya dan apa yang diharapkan dari pembaca.

 

2. Halaman Nas

Halaman nas terdiri atas uraian rinci setiap bab, sub bab, disertai dengan contoh latihan dan soal-soal yang harus diselesaikan mahasiswa. Pada akhir setiap bab diberikan rangkuman/ringkasan untung mempemuudah pembaca mengingat hal-hal penting. Susunan isi bab sama dengan apa yang dikuliahkan oleh dosen di hadapan mahasiswa. Karena itu, pada saat menyusun kalimat buku ajar, dosen membayangkan sedang bicara di depan mahasiswa, sehingga bahasa buku ajar adalah bahasa dialog, komunikatif, sederhana, dan tidak formal. Sebelum memasuki isi setiap bab, sebaiknya disusun pendahuluan untuk memotivasi mahasiswa untuk tertarik membaca isi buku.

Pendahuluan yang dimaksud berisikan tentang deskripsi isi pokok bahasan/bab yang bersangkutan, relevansi isi pokok bahasan dengan pengetahuan sebelumnya, relevansi dengan bab selanjutnya, dan tujuan instruksional khusus yang hendak dicapai.

 

3. Halaman penyudah

Halaman penyudah terdiri atas lampiran, pustaka, penjurus (indeks), dan takaris (glossary). Pustaka ditempatkan pada halaman akhir susunan halaman nas sebelum penjurus, agar pembaca mudah menemukannya. Pustaka dibagi menjadi bacaan utama dan bacaan tambahan. Penjurus adalah daftar istilah atau kata yang diperlukan untuk memudahkan pembaca mencari topic atau prakata yang dikehendaki. Penjurus dapat membantu pembaca mencari halaman, sehingga kata-kata khas yang dapat ditemukan. Takarir adalah kamus parsial yang memuat Takarir sebaiknya diberikan komentar/diterjemahkan secara interlinier dari semua kata dialek, kata-kata teknis, dan kata — kata yang mempunyai arti khas. Kebanyakan buku ajar memiliki pengelompokan semacam ini secara sistematis. Namun, setiap komponen tujuan perkuliahan, pembahasan, rangkuman, dan latihan yang telah terdapat papa buku ajar, maka buku ajar tersebut dianggap sudah memenuhi kelengkapan komponen buku ajar.

 


 

BAB III

PENULISAN BUKU AJAR

 

Proses penyusunan buku ajar mata kuliah tertentu akan memulai beberapa tahap sebagai berikut.

A. Telaah kurikulum,

B. Penyusunan silabus,

C. Pengorganisasian buku,

D. Pemilihan materi,

E. Penyajian materi, dan

F. Penggunaan bahasa dan keterbacaan.

A. Telaah Kurikulum

Sebelum merancang buku ajar, penulis mesti menelaah kurikulum secermat mungkin sambil memberikan catatan atau tanda-tanda atas bahan yang dianggap penting dan menarik perhatian. Secara umum, yang ditelaah dari kurikulum adalah landasan filosofis yang dijadikan dasar dalam pengembangan kurikulum. Landasan ini tercermin melalui pendekatan pembelajaran, tujuan pcndidikan, isi, prosedur, dan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan, serta sarana penilaian.

 

B. Penyusunan Silabus

 

Tahap berikutnya adalah menyusun silabus. Tahapan ini berguna dalam membantu perancangan urutan sistematika setiap bab buku ajar. Adapaun komponen yang harus dikembangkan dalam menyusun silabus adalah:

  1. Standar kompetensi,
  2. Kompetensi dasar,
  3. Materi pokok,
  4. Pengalaman belajar,
  5. Alokasi waktu, dan
  6. Sumber belajar.

 

C. Pengorganisasian Buku

 

Organisasi buku ajar tetap mengikuti struktur tata tulis pada umumnya, yakni diawali dengan pendahuluan, isi, dan penutup. Layaknya sebuah buku, buku ajar merupakan suatu kesatuan yang bermakna. Kebermaknaan ini ditandai oleh adanya ikatan organisasi. Oleh karena itu, pada awal naskah, buku ajar selalu berisikan informasi umum tentang buku, tujuan umum yang hendak dioapai setelah mempelajari buku, cara penggunaan, serta cara pengerjaan latihan dan soal.

 

D Pemilihan Materi

 

Pemilihan materi yang akan dibahas pada bab setiap buku ajar perlu disesuaikan dengan kurikulum dengan ukuran- ukuran standar berikut ini.

  1. Pemilihan materi standar sesuai dengan kurikulum,
  2. Pemilihanmateri ditinjau dari segi tujuan pendidikan,
  3. Pemilihan materi ditinj au dari segi keilmuan,
  4. Pemilihan materi dilihat dari relevansinya dengan perkembangan ilmu danteknologi.

 

E. Penyajian Materi

Penyajian materi merupakan panduan terhadap cara menyajikan materi yang terdapat di dalam buku ajar. Unsur- unsur yang terdapat didalamnya adalah:

  1. Tujuan pembelajaran,
  2. Penahapan pembelajaran,
  3. Menarik minat dan perhatian mahasiswa,
  4. Kemudahan dipahami,
  5. Keaktifan mahasiswa,
  6. Hubungan bahan,
  7. Norma, dan
  8. Soal dan latihan 3

 

F. Penggunaan Bahasa dan Keterbacaan

Penggunaan bahasa Indonesia yang baik, jelas, dan benar serta bahasa ragam formal/ilmiah dalam penyajian materi adalah keharusan. Bahasa yang baik dan jelas adalah bahasa yang sesuai dengan keperluan komunikasi dalam bahasa pembelajaran. Bahasa yang benar adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah kebahasaan. Bahasa ragam formal/ilmiah adalah bahasa yang sesuai dengan suasana pembelajaran. Penggunaan bahasa yang baik, jelas, dan benar akan mendorong kemampuan berbahasa yang baik dikalangan mahasiswa, baik secara lisan maupun tulisan. Selain masalah bahasa, keterbacaan ide atau materi dapat diciptakan melalui penentuan ilustrasi yang beragam. Terkait dengan ilustrasi, kita dapatkan media lain, seperti gambar, foto, warna, dan bahkan suara untuk memperkuat ide yang disampaikan pada buku ajar. Untuk setiap materi disetiap bab, selalu tersedia ilustras yang sesuai. Hindari penggunaan ilustrasi yang tidak mendukug ide bahan ajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *