Monthly Archives: Agustus 2014

MENGASAH RASA, MENGUJI SYUKUR

 

Kadang rasa dapat kita asah melalui suatu peristiwa atau pengalaman tertentu. Dengan melihat, dan mengalami kejadian tertentu, kita bahkan dapat menguji rasa syukur kita kepada Tuhan. Contohnya adalah pada saat kita mengunjungi teman yang terbaring sakit, kerabat yang mengalami musibah, atau pada saat kita berkunjung ke suatu tempat.

Saya mengalaminya saat angjangsana ke Sekolah Luar Biasa (SLB) di Palangka Raya. Setiap pertengahan Agustus, tepatnya saat menjelang ulang tahun kemerdekaan RI, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dimotori oleh Dinas Sosial, secara rutin menjadwalkan anjangsana ke tempat-tempat tertentu : panti asuhan, panti jompo, panti rehabilitasi, dan semacamnya. Dan untuk tahun 2014 ini, saya bersama dengan Kepala Kejaksaan Tinggi Kalimantan Tengah dan sejumlah petinggi lainnya, dijadwalkan berkunjung ke Sekolah Luar Biasa (SLB) Palangka Raya.

 

SLB Palangka Raya adalah salah satu sekolah luar biasa di kota Palangka Raya, yang menurut saya, memang sangat luar biasa. Bukan hanya karena anak-anak yang sekolah di sana adalah anak-anak berkebutuhan khusus, akan tetapi juga karena dibalik itu, banyak hal luar biasa yang ada di balik SLB ini.

 

Keluarbiasaan pertama, adalah semangat dan kesabaran guru-gurunya dalam mendidik anak-anak yang berkebutuhan khusus tersebut. Saya dapat membayangkan betapa sulitnya mengajar dan mendidik anak-anak yang memiliki hambatan berbagai segi : ada yang tidak bisa mendengar, tidak bisa berbicara, anak-anak autis, anak-anak yang secara mental mengalami keterbelakangan. Kita bisa membayangkan, mengajar dan mendidik anak-anak yang tidak mengalami hambatan saja sudah cukup sulit, apalagi mengajar dan mendidik anak-anak di SLB. Jadi memang dibutuhkan guru-guru dengan semangat sekaligus kesabaran yang sangat tinggi.

Keluarbiasaan kedua, adalah tingginya semangat anak-anak yang mengalami hambatan itu untuk belajar, tentu dengan berbagai keterbatasan masing-masing. Tampak dari perilaku mereka di dalam kelas dan di luar kelas, mereka memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap segala sesuatu.  Jika semangat itu dibandingkan dengan kita yang memiliki anak-anak tanpa hambatan, maka akan membuat iri hati kita sebagai orangtua.

 

Dari kunjungan seperti ini, saya paling tidak dapat memetik 2 hal, yakni kita dapat mengasah rasa sekaligus menguji rasa syukur. Saya sebut dapat mengasah rasa, karena ternyata di dunia ini masih banyak orang-orang yang kurang beruntung, yang belum diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bisa mendengar, bisa melihat, bisa berfikir dengan baik. Juga belum diberi kesempatan oleh Tuhan untuk berlari karena tidak memiliki kaki sempurna untuk bertumpu, tidak ada tangan untuk meraih dan memeluk. Dan, ketidaksempurnaan mereka itulah yang membedakannya dengan kita yang diberi kesempatan oleh Tuhan untuk memiliki kesempurnaan. Kita disebut lebih “sempurna” karena ada yang “kurang sempurna”. Seolah-olah dengan memperlihatkan kekurang sempurnaan itu, Tuhan sedang menguji rasa syukur kita, yang lebih beruntung karena diberikan Tuhan kesempurnaan yang lebih.

Makanya, berkunjung ke tempat-tempat seperti itu, mestinya dapat mengasah rasa sekaligus meningkatkan rasa syukur kita….

Dikira Tentara

Mungkin betul kata Mario Teguh, dalam talkshow motivasinya di salah satu stasiun TV swasta beberapa waktu lalu, bahwa 93% persepsi tentang seseorang itu dipengaruhi oleh penampilan fisiknya, sedangkan sisanya sebesar 7% dipengaruhi oleh faktor lain seperti gaya bicara. Artinya, cara kita berpakaian, berpenampilan, akan sangat mempengaruhi persepsi orang lain terhadap kita. Penampilan bisa mengecoh. Akan tetapi, dari sisi positif, penampilan diri kita juga bisa memperbaiki persepsi orang lain tentang kita.

Saya, yang tergolong memiliki perawakan sedang untuk ukuran orang Asia, yakni dengan tinggi hanya 165 cm, tentu harus menyesuaikan penampilan agar tampak lebih tinggi, misalnya membiasakan diri untuk menggunakan sepatu dengan hak tinggi. Saya suka menggunakan sepatu semi boot atau sepatu lars ala militer. Dan gara-gara sepatu seperti itu saya pernah dikira sebagai aparat kepolisian.

Ceritanya terjadi pada saat saya menempuh perjalanan dari kota Palangka Raya (Kalimantan Tengah) ke Banjarmasin (Kalimantan Selatan). Sekitar tahun 2003, kondisi jalan trans Kalimantan yang menghubungkan kedua kota tersebut tidaklah semudah sekarang. Pada saat musim hujan datang, akan selalu  ada beberapa titik jalan yang terputus, baik akibat kebanjiran ataupun karena jalannya amblas, sehingga  semua kendaraan, khususnya roda 4 atau lebih, harus berhati-hati melintas. Jika ada satu kendaraan terjebak lumpur,  amblas, atau terjebak banjir sehingga mogok di jalan tersebut, maka akan mengakibatkan  antrian kendaraan yang sangat panjang. Dalam kondisi musim hujan yang mengakibatkan banjir, biasanya pemerintah daerah dan penduduk setempat berinisitaif menyediakan kapal ferry sederhana untuk menyeberangi wilayah yang banjir tersebut. Kapal ferry tersebut merupakan rakitan 2 buah perahu kecil bermesin (kelotok) yang diberi lantai sehingga mampu mengangkut 2 kendaraan roda 4 dan beberapa kendaraan roda 2 sekali jalan.

Namun seperti biasanya, karena tidak berimbangnya antara jumlah kapal ferry dengan jumlah kendaraan yang akan diangkut dari kedua sisi jalan yang banjir, maka saat itu terjadi antrean sekitar 1 km. Dalam situasi seperti ini, selalu dibutuhkan kehadiran petugas kepolisian untuk pengaturan lalu lintas dan antrean masuk kapal ferry.

Saya, yang berangkat dari Palangka Raya ke Banjarmasin menggunakan mobil minibus disopiri sendiri bersama seorang teman, sampai di titik penyeberangan yang antreannya mengular sepanjang 1 km dengan keadaan pasrah. Melihat antrean sepanjang  itu, kami perkirakan paling tidak memerlukan waktu 3-4 jam untuk mendapatkan giliran menyeberangkan mobil yang kami kendarai. Karena capek duduk di depan setir menunggu giliran, saya iseng-iseng berjalan menuju tempat penyeberangan dan meminta teman saya untuk menyetir ketika kendaraan kadang-kadang harus bergerak atau dipindahkan perlahan mengikuti antrean.

Di titik penyeberangan, saya melihat ada seorang bintara polisi, dan saya perkirakan berumur sekitar 40 an tahun,  mengatur lalu lintas penyeberangan dan mengatur kendaraan mana yang harus keluar dan masuk ferry penyeberangan. Perlahan saya berjalan mendekati pak polisi ini. Alangkah terkejutnya saya ketika polisi ini, tiba-tiba dengan posisi tegap memberi hormat pada saya, dan berkata : “Siap ndan, apakah komandan juga mau menyeberang?” katanya. Saya menoleh ke sekitar saya, kalau-kalau yang dimaksud oleh pak polisi tadi bukanlah saya. Akan tetapi pak polisi ini tetap pada posisi hormat gerak. Saya jadi mafhum, bahwa yang dimaksud pak polisi tadi sebagai komandannya adalah saya. Saya menjawab sekenanya saja tetapi juga tegas, “Ya”, jawab saya. Pak polisi menjawab : “Siap ndan,   silahkan mobil komandan duluan” katanya. Saya lalu bergegas memberi kode kepada teman saya yang di mobil untuk segera memotong antrian dan menyeberang lebih dulu. Saat itu kami memang ada acara dinas dan mendesak di kantor Kopertis Wilayah XI Kalimantan di Banjarmasin, sehingga harus segera tiba di tempat tujuan. Selain itu, saya takut kalau pak polisi mengenali lebih jauh tentang saya. Jadi rupanya pak polisi tadi, mungkin salah mengenali saya sebagai komandannya, atau barangkali merasa pernah melihat saya sebagai perwira polisi, karena saat itu kebetulan saya menggunakan sepatu hak tinggi ala polisi, celana coklat mirip seragam dinas polisi, dan rambut cepak potong pendek. Soal rambut itu, saya memang lebih sering memotongnya pendek karena jenis rambut saya yang kaku. Jika dibiarkan panjang akan tampak rambut saya berdiri sehingga kurang rapi.

Jadi, dalam kasus itu, saya diuntungkan karena berpenampilan seperti polisi.

Dalam kejadian lain, saya malah sebagai dikira tentara dari angkatan udara. Kejadiannya pada tahun 2010 di bandara Juanda Surabaya. Saat itu saya sedang transit di bandara Juanda Surabaya menuju bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Saya akan mengikuti Muktamar Muhammadiyah di Yogyakarta. Saya lihat, sebagian besar penumpang di ruang tunggu, adalah mereka yang akan menghadiri muktamar tersebut. Hal itu dapat dilihat dari pakaian yang mereka kenakan, ada yang menggunakan batik berlambang Muhammadiyah ataupun Aisyiyah.

Pada saat menaiki tangga pesawat menuju Yogyakarta, beberapa ibu Aisyiyah protes kepada petugas airline swasta yang mereka akan naiki, dan berkeras tidak bersedia menaiki pesawat. Alasan utamanya adalah karena mereka takut dan tidak menyangka, bahwa mereka akan diangkut menggunakan pesawat tua. “Ini kan pesawat yang masih menggunakan baling-baling, ini sudah tua, kami ingin pesawat yang seperti itu” kata seorang ibu di samping saya sambil menunjuk sebuah pesawat jet yang parkir di apron.

Saya baru sadar,  ibu-ibu ini punya persepsi bahwa jika pesawat masih menggunakan baling-baling alias  bermesin jenis propheler,  maka pesawat itu adalah pesawat tua. Mungkin mereka punya persepsi  bahwa pesawat yang akan mereka naiki sama dengan  pesawat tua  jenis Fokker 70 yang masih menggunakan baling-baling.

Beberapa petugas apron berusaha menjelaskan kepada ibu-ibu itu bahwa menaiki pesawat baling-baling ini adalah aman, akan tetapi beberapa orang ibu bersikeras tidak bersedia naik ke pesawat. Akhirnya, saya juga mencoba turut membujuk ibu-ibu ini untuk tetap bersedia naik ke pesawat, dengan cara menjelaskan bahwa pesawat yang kami naiki adalah pesawat baru yang aman sekalipun menggunakan baling-baling. “Tenang saja bu, ini adalah pesawat baru buatan Perancis pada tahun 2010, jadi sangat aman untuk diterbangkan”, kata saya. Untungnya saya punya beberapa referensi dan pernah membaca tentang jenis pesawat yang akan kami naiki tersebut. Seorang ibu dengan penuh selidik bertanya kepada saya :”Bapak dari angkatan udara  ya?’.  Rupanya, lagi-lagi karena penampilan saya yang menggunakan sepatu ala militer dan berambut cepak, menyebabkan orang lain salah persepsi tentang profesi saya. Akan tetapi untuk menyenangkan orang lain, dan agar ibu-ibu ini berani naik ke pesawat, maka dengan tegas saya menjawab : “Ya, betul”. Rupanya melihat penampilan saya, dan mendengar jawaban saya yang tegas, si ibu seperti memberi komando kepada ibu-ibu yang lain mengatakan :”Oke, saya percaya bapak, kita naik”, katanya. Dan jadilah ibu-ibu tersebut baik ke pesawat, selamat sampai ke Yogyakarta. Semua jadi happy ending hanya karena saya dikira dari angkatan udara.

Dari dua kisah di atas, ternyata betul kata pak Mario Teguh, bahwa penampilan fisik sangat berpengaruh terhadap persepsi orang lain  tentang kita. Maka dari sekarang, perbaiki penampilan Anda, bukan untuk menipu, akan tetapi untuk memperbaiki persepsi orang lain tentang kita…………………………

Dikira Dokter

 

Jika Anda bertanya kepada anak kecil tentang cita-citanya, maka menjadi dokter adalah salah satu pilihan cita-cita yang banyak disebut. Padahal sebagian besar anak-anak, belum faham betul tentang profesi dokter itu. Anak-anak ingin menjadi dokter lebih karena pengaruh pemahaman tentang penampilan fisik dokter, sebagaimana mereka lihat di media massa. Anak-anak melihat bahwa dokter itu berbaju atau berseragam putih, rapi, dengan stetoskop tergantung di telinga atau di leher. Dan karena penampilan itulah saya pernah dikira sebagai dokter.

Kejadiannya pada tahun 2001, saat ibu angkat saya masuk ICCU Rumah Sakit Dorys Sylvanus Palangka Raya karena sakit jantung. Pada malam itu, sehabis mengajar di kampus, saya langsung menuju Rumah Sakit Dorys Sylvanus Palangka Raya, dengan maksud membesuk ibu angkat saya. Karena buru-buru dan pertimbangan waktu, saya tidak sempat mengganti pakaian, sehingga pakaian putih hitam, lengkap dengan tas hitam berisi bahan ajar, saya tenteng ke rumah sakit.

Sebenarnya, ruang ICCU merupakan area terbatas yang hanya boleh dimasuki dokter dan paramedis yang bertugas saat itu. Cuma karena beberapa petugas yang jaga malam itu saya kenal (tentunya karena hasil silaturahim juga), maka saya agak leluasa bisa keluar masuk ruang ICCU. Ini tentu agak berbeda dengan beberapa orang anggota keluarga pasien yang lain, yang hanya dibolehkan menunggu dan duduk di depan pintu masuk ruang ICCU.

Setelah dua kali keluar masuk menengok ibu angkat saya, saya putuskan untuk pulang. Pada saat keluar ruang ICCU, ada seorang bapak, yang memang tidak saya kenal,  yang mencegat saya di pintu keluar ruang ICCU tersebut. Beliau berkata : “Pak dokter, bagaimana keadaan bapak saya, apakah masih ada harapan?”, katanya lirih. Tampak bahwa bapak ini mengharapkan sekali jawaban dari saya, dan tentu saja saya tidak ingin mengecewakan beliau. Walaupun saya telah disangka sebagai dokter, dan kenyataannya saya bukan dokter, bahkan saya juga tidak tahu menahu tentang siapa yang dimaksudkan bapak tadi sebagai bapaknya yang sedang menghadapi sakaratul maut di ruang ICCU, akan tetapi tentu kita juga punya kewajiban untuk membahagiakan dan memberi motivasi keluarga pasien. Jadi saya putuskan untuk menjawab : “Insya Allah, tim dokter sedang berupaya, selebihnya kita serahkan kepada Tuhan. Bapak dan keluarga berdoa saja” kata saya singkat. Jawaban itu secara spontan muncul, mungkin karena saya beberapa kali menonton sinetron Indonesia yang sering berkisah tentang rumah sakit. Dan jujur, jawaban saya juga tidak bohong, karena sifatnya umum. Tapi yang membahagiakan saya, si bapak kemudian terlihat sumringah, dan sambil berlinang airmata, beliau menjabat tangan saya, dan berkata “Terimakasih dok, terimakasih”. Saya hanya tersenyum. Rupanya saya benar-benar dikira dokter.

Kejadian unik lainnya, saat saya berangkat haji pada akhir Oktober hingga Desember tahun 2006 sebagai TPHD  (Tim Pembimbing Haji Daerah) Kalimantan Tengah.    Saat itu saya agak terlambat masuk asrama embarkasi Banjarmasin, sehingga tidak sempat diperkenalkan sebagai TPHD. Jadinya saat minggu pertama berhaji, khususnya di Madinah, sebagian besar jamaah anggota rombongan saya, mengira saya adalah dokter kloter. Kebetulan juga, dokter kloter yang ditunjuk pemerintah hanya satu orang, dan dia kesulitan membagi waktunya karena pemondokan untuk kloter kami di Madinah terpisah-pisah. Akibatnya, setiap saya berkunjung ke kamar-kamar jamaah menanyakan kabar mereka setiap hari, beberapa jamaah mengeluhkan kesehatan mereka, terutama akibat cuaca dingin saat itu. “Pak dokter, ini saya kurang enak badan, agak meriang, dan batuk. Tolong dikasih tahu apa obatnya?” kata salah seorang bapak anggota jamaah haji. Ternyata, lagi-lagi saya dikira dokter.  “Bapak banyak istirahat saja, kerjakan ibadah yang wajib saja dulu, banyak minum air putih. Obat seperti paracetamol bisa bapak minum”, jawab saya.

Untungnya saya suka membaca tentang dunia kedokteran, sehingga ada sedikit bekal pengetahuan tentang obat-obatan. Saat itu, setiap jamaah diminta membawa obat-obat umum yang sering digunakan di tanah air. Selain itu, di setiap kloter disiapkan obat-obatan generik yang biasa digunakan untuk penanganan keluhan kesehatan jamaah  yang tidak terlalu berat, seperti obat pereda nyeri (jenis obat-obatan yang mengandung paracetamol atau acytamenofen). Juga ada beberapa obat batuk.

Alhamdulillah, saat keesokan harinya saya kembali berkunjung ke kamar bapak yang tadi, ternyata beliau sudah merasa sehat. “Terimakasih pak dokter, saran dan obatnya manjur. Sekarang saya merasa lebih baik”, kata si bapak. Sekali lagi, ternyata penampilan saya, bisa menyesatkan, karena saya dikira dokter.

Poin penting yang ingin saya sampaikan adalah, ternyata penampilan bisa menipu. Kalau Anda orang yang bijak, maka janganlah pernah percaya pada pandangan pertama, karena pandangan pertama bisa begitu menggoda……………….

Kai Hintalu Naik Haji

 

Saya berangkat haji untuk pertama kalinya pada tahun 2006. Saat itu saya ditunjuk sebagai TPHD (Tim Pembimbing Haji Daerah) Kalimantan Tengah. TPHD terdiri dari orang-orang yang diberi tugas (lebih tepatnya mungkin diberi anugrah) untuk mendampingi jamaah haji dari suatu daerah. Istilah “mendampingi” itu bisa diterjemahkan secara sendiri-sendiri oleh yang bersangkutan, karena anggota TPHD ternyata tidak tercatat sebagai bagian dari sistem penyelenggaraan haji secara nasional. Jadi, jika bisa membantu apapun yang bisa dibantu, ya syukurlah. Atau mau sedikit cuek bebek dan asyik menjalankan ibadah sendiri, juga tidak ada yang melarang.   Enaknya, TPHD dibiayai oleh pemerintah daerah alias berangkat haji gratis. Itulah sebabnya saya lebih memilih berfungsi sebagai pembantu ketua kloter, karena rasanya tidak enak jika tidak melakukan apa-apa padahal sudah diberangkatkan pemerintah daerah secara gratis.

Waktu itu saya ditunjuk mendampingi rombongan jamaah haji dari Kabupaten Kapuas, Pulang Pisau, dan Barito Timur, jumlahnya ada sekitar 80 an orang. Kelompok jamaah ini, seperti juga jamaah yang lain, memiliki heterogenitas yang tinggi, karena berasal dari berbagai suku, latar belakang pendidikan, status sosial, jenis pekerjaan, bahkan usia.

Salah satu anggota rombongan saya adalah Kai Hintalu (Kai = Kakek, Hintalu = Telur, dalam bahasa Banjar). Teman-teman memanggil beliau Kai Hintalu karena di kampung asalnya beliau berjualan hintalu (telur). Karena pandai berhemat dan menabung, Kai Hintalu bisa mendaftar ONH dari hasil berjualan telur. Usianya sudah 72 tahun, terlihat ringkih dan kurus, dan yang ini yang akan selalu membuat repot petugas kloter termasuk pendamping seperti saya, yakni beliau sudah sering lupa.

Menurut beliau,  dia harusnya berangkat bersama istrinya pada tahun 2006 itu, karena nomor porsinya juga sudah berurutan dengan istrinya. Hanya ketika panggilan pelunasan ONH atau panggilan keberangkatan haji, nama dan nomor porsi Kai Hintalu merupakan cutting point, sehingga akibatnya Kai Hintalu masuk daftar yang berangkat tahun 2006, sementara istrinya masuk daftar jamaah yang akan diberangkatkan tahun 2007. Tapi karena merasa sudah cukup uzur, Kai Hintalu memutuskan untuk berangkat pada tahun 2006, dan sang istri tercinta, yang usianya jauh lebih muda karena merupakan istri ketiga beliau, didaftarkan dalam rombongan jamaah “haji turis” atau haji non ONH alias illegal.  Akibatnya, Kai Hintalu berangkat bersama rombongan jamaah haji resmi, sedangkan sang istri juga berangkat dan sampai ke Mekkah beberapa hari setelah itu, tetapi tempat tinggalnya terpisah dari jamaah resmi. Kabarnya, sang istri ketika dijenguk oleh Kai Hintalu saat di Mekkah, ternyata diinapkan di rumah-rumah penduduk, dengan fasilitas akomodasi seadanya, tempat tidur di tumpuk-tumpuk, dan tentu saja tidak khusuk beribadah karena harus sembunyi-sembunyi dari kejaran petugas keamanan dan imigrasi Arab Saudi. Ini merupakan bukti bahwa sistem pengawasan penyelenggaraan haji masih perlu ditata untuk mengurangi praktek mafia perhajian yang dapat merugikan masyarakat.

Kembali ke Kai Hintalu. Karena beliau terpisah dari istri tercinta, tentu saja  sang kai selalu berusaha mendatangi pondokan sang istri, yang tempatnya nun jauh di atas gunung sana dan tersembunyi. Saya selalu mengingatkan beliau agar mengurangi aktivitas ”panjat gunung” tersebut demi kesehatan dan keamanan beliau, akan tetapi Kai Hintalu dengan mantap menjawab :”Cu, aku ini masih sehat, masih segar, masih mampu mendaki gunung itu. Nanti sebelum magrib kai pasti kembali” katanya sambil menunjuk arah lokasi pondokan istrinya. Saya bertanya. “Kai, apakah masih ingat arah jalannya? Dan juga arah jalan pulang?”. Dengan mantap  kai menjawab “Yakin aja aku masih ingat”. Dan seperti hari-hari sebelumnya, pada saat menjelang magrib, kami petugas akan disibukkan oleh laporan jamaah kelompok Kai Hintalu, bahwa Kai Hintalu belum pulang. Dan seperti biasa pula, pada larut malamnya akan ada petugas dari sektor atau Daker (Daerah Kerja) yang mengantarkan beliau ke  pondokan kami. Artinya, kai tersesat, seperti biasanya. Kai… kai…

Saat puncak pelaksanaan ibadah haji, kondisi Kai Hintalu juga tidak terlalu baik sehingga harus menjalani safari wukuf. Wukuf adalah bagian dari prosesi haji yang wajib dilaksanakan, sehingga bagi orang-orang yang sakit atau kesehatannya tidak memungkinkan, pemerintah Arab Saudi menyediakan ambulan sebagai angkutan, dan jamaah yang mengikuti safari wukuf hanya berada di dalam ambulan tersebut sampai prosesi wukuf selesai. Dari kenyataan ini, harus difahami bahwa ibadah haji sebagian besar merupakan ibadah yang memerlukan kondisi fisik dan kesehatan yang prima, kondisi yang harus menjadi perhatian bagi jamaah haji berusia lanjut seperti Kai Hintalu.

Kondisi Kondisi terburuk adalah pada saat setelah melaksanakan ibadah haji dan persiapan pulang ke tanah air melalui Jeddah, kondisi kesehatan Kai Hintalu benar-benar sudah payah. Tentu saja tanpa didampingi sang istri, yang tidak ada kabar beritanya dipindahkan entah ke mana oleh penyelenggara “haji turis” tersebut, sehingga kai hanya dirawat oleh petugas dan jamaah lainnya. Bahkan ketika sampai di hotel transit di Jeddah, Kai Hintalu sudah seperti orang latah yang berperilaku seperti anak kecil, sehingga kami semua bergotong royong dan bergantian merawat beliau. Kalau soal menyuruh minum obat, Kai Hintalu memang paling patuh dengan saya, karena beliau mengira saya adalah dokter di kloter itu. Sampai turun di debarkasi Banjarmasin, kondisi Kai Hintalu sudah sangat lemah sehingga saya meminta untuk disiapkan ambulan untuk membawa beliau ke rumah sakit. Sampai di Banjarmasin itu, saya tidak sempat memantau keadaan beliau karena mengurus jamaah yang lain, hingga pada tahun 2007 saya mendengar kabar dari teman-teman jamaah dari kampung beliau, bahwa beliau telah berpulang kerahmatullah. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Poin penting yang ingin saya sampaikan dari cerita ini. Pertama, kalau Anda akan berangkat haji, jangan terpisah dengan pasangan Anda, atau minimal ada orang dekat atau kerabat yang berangkat bersama Anda. Karena saat berada di tanah suci, ada kecenderungan orang akan mengurus diri dan keluarganya masing-masing. Jangan berharap pada petugas haji, karena jumlahnya juga kurang memadai untuk bisa melayani seluruh jamaah secara penuh dan menyeluruh. Dan yang kedua, ini yang penting, jangan berangkat haji menunggu usia tua, karena ibadah haji adalah ibadah fisik. Dan yang pasti, kondisi ketuaan Anda akan merepotkan orang lain, he.. he ….

Silaturahim ala Kakek Saya

 

Hari ini, di awal Agustus 2014, saya diajak oleh paman saya untuk menengok kerabat yang kabarnya  sakit. Paman saya, seorang pria lima atau enam puluhan tahun, jauh-jauh datang dari kota Buntok (ibukota Kabupaten Barito Selatan) ke kota Palangka Raya (ibukota Provinsi Kalimantan Tengah) dengan menempuh jarak perjalanan sekitar 200 km, untuk menengok kerabat tersebut.

Awalnya saya berfikir bahwa ada kerabat atau keluarga dekat kami yang sakit, sehingga paman saya harus bersusah payah menempuh perjalanan 200 km untuk menjenguknya. Akan tetapi, ternyata yang ditengok adalah “kerabat angkat”. Kebetulan pula agama dan suku yang dianut kerabat tersebut  berbeda dengan agama dan suku paman saya itu.  Hal ini menjadi menarik karena, dalam kultur masyarakat atau lingkungan tempat paman saya tinggal, agak jarang orang yang memiliki kerabat angkat dengan orang yang berbeda agama. Apalagi ikatan kekerabatan itu sudah seperti ikatan persaudaraan.

Setelah saya telusuri sejarahnya, ternyata almarhum kakek saya, yang dulunya merupakan pendatang dan pedagang dari Kalimantan Selatan dan akhirnya tinggal di Kota Buntok, telah menjalin ikatan persaudaraan angkat dengan banyak orang saat itu, terutama penduduk asli di Buntok, tanpa memandang perbedaan suku dan agama. Itulah sebabnya, jika nama almarhum kakek disebut, maka hamper semua orang-orang tua di kota Buntok mengenal sekaligus mengingatnya.

Pada saat ini, ikatan persaudaraan yang telah dijalin oleh almarhum kakek itu, kemudian diteruskan oleh paman saya tadi dengan kerabat yang sedang sakit tersebut.

Saat saya mengantarkan dan mendampingi paman saya menjenguk kerabat yang sakit tersebut, saya menjadi sadar bahwa silaturahim tidak mengenal batas : agama, suku, usia, status sosial ekonomi, pangkat dan jabatan, serta hal lainnya. Paman saya adalah contoh sukses implementasi konsep silaturahim yang baik dan luas, hablum minan naas yang komplit, sesuai dengan konsep Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamiin.

Ternyata, persaudaraan dan silaturahim bahkan telah menyingkirkan batas-batas nafsi, sekat-sekat kelompok, dan Tuhan telah lama mencampakkan batas-batas itu.  Akan tetapi, manusialah yang mendirikan sekat-sekat pembatas silaturahim sehingga terjadi pengkotakan dan segmentasi.

Silaturahim harus dimaknai secara universal………………………

pentingnya silaturahim

Silaturahim memang disarankan dalam agama, karena kata Rasulullah, silaturahim dapat meluaskan rizki dan memperpanjang umur. Dalam bahasa umum, silaturahim berarti memperluas jaringan.

Memperluas rizki, pasti, karena dengan semakin banyak silaturahim maka semakin banyak pula kawan, yang berarti juga semakin luas peluang mendapatkan rizki, bahkan dari sumber yang tidak disangka-sangka. Wayarzuku min haisu la yahtasib. Tentu rizki di sini tidak selalu harus diartikan sebagai materi yang didapat. Rizki juga bisa berupa informasi, rizki kesehatan (mungkin karena berteman dengan dokter), atau rizki kebijakan karena berteman dengan pejabat.

Silaturahim juga memperpanjang umur. Tentu hal ini bisa diartikan secara tersurat maupun tersirat. Orang yang suka bersilaturahim tentu akan panjang umurnya. Misalnya saja jika sakit di rumah, maka tetangga yang paling dekat, yang silaturahim dengannya dalam keadaan baik, tentu dengan sukarela menolongnya. Secara tersurat, orang yang suka bersilaturahim akan memiliki banyak teman, insya Allah akan disukai banyak orang, sehingga namanya akan selalu dikenang sepanjang masa oleh orang banyak, sehingga “umur” nya jauh melampaui batas usianya.

Akan tetapi dosen saya waktu di pasca dulu memiliki joke tentang hal ini. Sekali lagi ini hanya joke. Beliau mengatakan bahwa orang yang suka bersilaturahim itu sudah pasti panjang umur, karena pada saat malaikat maut datang ke rumahnya untuk mencabut nyawanya, ternyata yang bersangkutan sedang tidak di rumah karena sedang bersilaturahim ke rumah tetangganya. Sehingga malaikat maut tidak jadi mencabut nyawanya dan semakin panjanglah umurnya. Ha ha ha ….. ada ada saja.

perlu silaturahim lagi…..

Beberapa waktu lalu saya diundang untuk menghadiri acara pernikahan anak kawan saya. Saya sebenarnya diundang untuk menghadiri acara resepsi pernikahan tersebut, artinya diperkirakan saat acara resepsi tersebut, acara nikahnya sudah selesai. Cuma karena perias pengantennya kesasar, maka acara pernikahannya jadi molor. Sehingga saat saya datang, acara pernikahannya belum dimulai.

Lucunya, pada saat saya masuk ruangan acara dan semua tamu sepertinya sudah kumpul karena sedang menunggu pengantin prianya, ada seorang nenek yang bertanya kepada perempuan setengah baya di sampingnya, dan pertanyaannya terdengar oleh saya. Dia bertanya : “Inikah pengantin prianya?” Sontak saya terkejut sambil tersenyum. Perempuan setengah baya di samping si nenek menjawab :”kayaknya bukan”. Lantas ketika disambut oleh sahibul bait, nama dan jabatan saya disebut serta diperkenalkan. “Oh gitu kah?” kata si Nenek, “ternyata yang tadi bukan pengantinnya” kata beliau.

Jadi, hampir saja saya dikira pengantennya. Mungkin karena si nenek sudah mulai kabur matanya.

Tapi yang jelas, orang seperti saya, yang selama Ramadhan sering muncul di TVRI Kalteng menjelang beduk magrib, ternyata masih banyak sekali yang belum kenal. Itulah perlunya silaturahim lagi, silaturahim lagi, terus silaturahim tiada henti………… Karena ternyata dunia sangat luas………………..