Monthly Archives: September 2014

Tugas Mata Kuliah Statistika Program Studi MAP UM Palangkaraya

TUGAS MATA KULIAH STATISTIKA
PROGRAM STUDI MAGISTER ADMINISTRASI PUBLIK UM PALANGKARAYA
PETUNJUK :
1. Salin soal berikut ini untuk masing-masing orang sebagaimana telah ditentukan
2. Jawab pertanyaan-pertanyaan berikut.
a. Tentukan mean, median, dan modus dari data berikut (bisa manual, bisa by Excell)
b. Susun data tersebut dalam bentuk data kelompok frekuensi, kemudian sajikan dalam bentuk gambar
1 TUGAS UNTUK : NAMA : BAINI
11 12 12 14 16 14 13 15 16 12 14 15 15 12 10 9 11 14 13 14 18 17 18 19
2 TUGAS UNTUK : NAMA : SUGENG RIYADI
11 12 14 14 16 14 13 18 16 12 14 15 15 12 9 9 11 14 13 14 18 17 18 19
3 TUGAS UNTUK : NAMA : Puji Astuti
9 12 12 14 16 14 13 15 15 12 14 15 15 12 10 10 11 14 13 14 18 17 18 19
4 TUGAS UNTUK : NAMA : : Muhammad Irwan
10 12 11 14 16 14 13 15 16 12 14 15 15 12 10 9 12 14 13 14 18 17 18 17
5 TUGAS UNTUK : NAMA : Hendra Saputra
8 12 12 10 16 14 13 15 16 12 14 15 15 12 10 9 11 14 13 14 18 17 18 10
6 TUGAS UNTUK : NAMA : Ahmad Fordiansyah
11 12 9 14 16 14 13 15 16 12 14 15 15 12 10 9 11 14 13 14 11 17 11 10
7 TUGAS UNTUK : NAMA : Amril Norman
12 12 9 14 16 14 13 15 16 12 17 15 15 12 10 9 11 14 13 14 18 17 12 11
8 TUGAS UNTUK : NAMA : Hasan Busyairi
11 12 12 14 16 14 13 15 16 12 14 15 15 12 10 9 11 14 13 14 18 17 18 19
9 TUGAS UNTUK : NAMA : Muhdianor Hadi
11 12 10 14 16 14 13 18 16 12 14 15 15 12 9 9 11 14 13 14 18 17 18 19
10 TUGAS UNTUK : NAMA : Betty Karya
10 11 12 14 16 14 13 15 15 12 14 15 15 12 10 10 11 14 13 14 18 17 18 11
11 TUGAS UNTUK : NAMA : Andi Wira Hadi Kusuma
10 12 11 14 16 14 13 15 16 12 14 15 15 12 10 9 12 14 13 14 11 17 18 10
12 TUGAS UNTUK : NAMA : Edy Surya Chandra
8 11 12 10 16 14 13 15 16 12 14 15 15 12 10 9 11 14 13 14 18 17 18 9
13 TUGAS UNTUK : NAMA : Rudy Fahliani
17 11 11 14 16 14 13 15 9 12 14 15 15 12 10 9 11 14 11 14 11 17 11 10
14 TUGAS UNTUK : NAMA : Eka Faisal Arif
12 11 12 14 16 14 13 15 9 12 17 15 15 12 10 9 11 14 13 14 18 17 12 11
15 TUGAS UNTUK : NAMA : Marsito
11 11 12 14 16 14 13 15 16 9 14 15 15 12 10 9 11 14 13 14 18 17 18 10
16 TUGAS UNTUK : NAMA : Muhammad Rizal
11 12 10 14 16 14 13 18 16 12 14 15 15 12 11 9 11 14 13 14 18 17 18 10
17 TUGAS UNTUK : NAMA : Rusliansyah
10 9 12 14 16 14 13 15 15 12 14 15 15 12 11 10 11 14 13 14 18 17 18 12
18 TUGAS UNTUK : NAMA : I Gusti Ayu Eka Tyas Astuti
9 12 11 14 11 14 13 15 16 12 14 15 15 12 10 9 12 14 13 14 11 17 18 10
19 TUGAS UNTUK : NAMA : Abas Ruchandar
8 11 12 10 12 14 13 15 16 12 14 15 15 12 10 9 11 14 13 14 18 17 11 9
20 TUGAS UNTUK : NAMA : At Prayer
17 12 9 14 12 14 13 15 16 12 14 15 15 12 10 9 11 14 9 14 11 17 11 10
21 TUGAS UNTUK : NAMA : Abramsyah
12 14 12 14 16 14 13 15 16 12 17 15 15 12 10 9 11 14 13 9 18 17 12 11
22 TUGAS UNTUK : NAMA : Subandi
11 11 12 14 16 14 13 15 16 9 14 15 15 12 10 9 11 14 13 14 18 17 18 10
23 TUGAS UNTUK : NAMA : Ida Ayu Nia Anggaraini
10 12 10 14 16 11 13 18 16 12 14 15 15 12 11 9 11 14 13 14 18 17 18 10
24 TUGAS UNTUK : NAMA : Mukarramah
11 9 12 14 16 11 13 15 15 12 14 15 15 12 11 10 11 14 13 14 18 17 18 12
25 TUGAS UNTUK : NAMA : Satriadi
11 12 11 14 11 14 13 11 16 12 14 15 15 12 10 9 12 14 13 14 11 17 18 11
26 TUGAS UNTUK : NAMA : Eki Triastuti
8 11 10 10 12 14 13 15 16 12 14 15 15 12 10 9 11 14 13 14 9 17 11 11
27 TUGAS UNTUK : NAMA : Heriansyah
11 12 10 14 12 14 13 15 16 12 14 15 15 12 10 9 11 14 9 14 11 17 11 9
28 TUGAS UNTUK : NAMA : P. Yenie
12 9 12 14 11 14 13 15 16 12 17 15 15 12 10 9 11 14 13 9 18 17 12 15

Menghargai Lupa

 

Lupa itu manusiawi. Lupa itu kodrat yang diberikan Tuhan kepada kita, walau kadang menimbulkan efek yang buruk bagi kita.

Dalam sistem memory manusia, lupa bisa terjadi karena bertumpuknya informasi sehingga informasi lama sulit kita gali kembali pada saat diperlukan. Ada semacam interferensi atau tumpang tindihnya  informasi antara yang baru kita terima dengan informasi yang telah lama kita simpan di sistem memory. Memperbanyak informasi sejenis dalam suatu waktu tertentu sebagai penguatan informasi, dipercaya bisa mengurangi lupa. Akan tetapi jika informasinya lebih heterogen, maka justeru akan meningkatkan kemungkinan lupa. Dalam konteks ini, dipercaya bahwa ingatan kita terhadap informasi  baru akan lebih baik jika  informasi  yang kita miliki lebih sedikit. Perhatikan bahwa anak kecil lebih mudah mengingat peristiwa masa lalunya ketimbang orang dewasa.

Jenis lupa yang lain adalah kealpaan. Ini banyak dipengaruhi oleh faktor usia. Semakin tua umur seseorang, maka semakin lemah jaringan saraf yang menghubungkan antar bagian otak. Penuaan bisa menyebabkan bertambahnya jumlah sel saraf otak yang mati. Itu sebabnya, orangtua cenderung lupa  (alpa) tentang sesuatu yang baru saja dilakukan. Walaupun demikian, tenatu saja lupa dan alpa bukan hanya milik orang yang sudah tua.

Dulu saat saya kuliah jenjang S1, saya  dan teman-teman kuliah masih sering diberi  kuliah oleh seorang professor, yang mungkin karena sudah berumur, sering lupa melepas helm yang ada di kepala beliau, sehingga helm itu masih dipakai pada saat memberi kuliah di dalam kelas. Kadang juga si professor menggunakan sepatu di kaki sebelah kiri, dan sandal di kaki sebelah kanan.

Sebagai contoh lain, saya dengan teman pernah mengalami kejadian lucu. Saat itu, kita ada silaturahim di Banjarmasin dengan beberapa tokoh di provinsi itu. Tentu saja sebagian tokoh adalah orang-orang tua. Karena pertemuannya dilaksanakan di rumah makan dengan cara lesehan sambil makan siang, maka sepatu dan alas kaki lainnya harus dilepas. Lucunya, saat pertemuan selesai, ada teman yang kehilangan sebelah sepatunya. Usut punya usut, ternyata salah seorang tokoh yang kita undang, yang pulang lebih dulu karena masih ada pertemuan lain, secara tidak sengaja, karena kealpaan, memasang sepatunya berbeda antara kaki kiri dan kaki kanan. Sepatu sebelahnya punya sang tokoh, sementara kaki lainnya mengenakan sepatu teman saya. Tapi masalah bisa diselesaikan, dengan cara mendatangi ke kediaman beliau untuk menukarkan sepatu yang sebelahnya tadi.

Meskipun lupa, atau kealpaan kita, sering mendatangkan masalah, baik bagi diri sendiri maupun orang lain, akan tetapi kita juga harus bersyukur bahwa kita bisa lupa.  Tuhan sudah memberikan manusia berbagai jenis pengalaman hidup, dari yang manis sampai yang pahit. Itulah gunanya lupa, yakni untuk melupakan pengalaman pahit dan kejadian buruk yang kita alami. Anda bisa bayangkan jika semua pengalaman buruk dan pahit yang pernah Anda alami, selalu terbayang di benak Anda dan tidak bisa dilupakan. Jika tidak ada lupa, maka mungkin hidup kita akan terus dirundung kesedihan. Jadi, bersyukurlah bahwa kita bisa lupa. Mari kita menghargai lupa…… Bukan lupa menghargai……

Kebahagiaan Separuh Nilai

 

Ada sebuah cerita yang pernah saya dengar dari Cu Cu, seorang pemandu wisata di Tiongkok yang cukup fasih berbahasa Indonesia. Menurut Cu Cu, dia pernah membawa rombongan wisatawan dari Indonesia yang umumnya berusia lanjut. Maklum saja, karena sudah berusia lanjut, mereka harus selalu diingatkan,  terutama tentang barang-barang yang mereka bawa. Pada suatu saat, Cu Cu lupa mengingatkan anggota rombongan, apakah barang bawaan mereka ada yang tertinggal. Biasanya Cu Cu mengingatkannya tepat saat bus yang mengangkut rombongan, akan berangkat dari hotel tempat menginap menuju ke kota lainnya.  Pada saat akan makan siang di tempat perhentian antar kota, ada seorang ibu tua anggota rombongannya yang melaporkan bahwa ada barang berharga miliknya yang ternyata tertinggal di hotel, yakni gigi palsu miliknya.  Kita bisa bayangkan, bagaimana kesulitan yang akan dialami oleh ibu tersebut pada saat makan tanpa gigi palsunya itu. Cu Cu kemudian berusaha menghubungi hotel tempat menginap di mana gigi palsu si ibu tadi tertinggal, dan ternyata gigi palsu tersebut  masih ada di dalam kamar. Untung para pelayan hotel masih berbaik hati dan jujur, sehingga gigi palsu tersebut ditemukan. Masalahnya adalah, karena perjalanan sudah terlalu jauh meninggalkan hotel, maka tidak mungkin rombongan kembali hanya untuk mengambil gigi palsu tersebut. Syukurlah pihak hotel berbaik hati untuk mengirimkan gigi palsu itu ke tanah air. Tapi justeru bantuan itulah yang menjadi sumber masalah.  Pertama, si nenek akan mengalami kesulitan  mengunyah makanan selama menghabiskan lawatannya di Tiongkok. Dan yang kedua, ternyata gigi palsu itu datang lebih cepat ke tanah air dibandingkan dengan si nenek, sehingga menyebabkan keluarganya di Indonesia salah sangka. Tentu saja, karena yang datang hanya gigi palsunya saja, maka pihak keluarga menyangka bahwa si nenek sudah pergi ke alam baka. Parahnya lagi, rombongan itu terdiri dari orang-orang tua yang belum pandai menggunakan HP. Selang beberapa hari setelah itu, pihak keluarga menghubungi travel agent penyelenggara tour dan meminta pertanggung jawaban mereka, karena dianggap tidak memberi kabar kematian si nenek kepada pihak keluarga di tanah airi. Tentu saja pihak travel agent terkejut, dan setelah diusut, ternyata itu hanyalah kesalahan si gigi palsu yang datang lebih cepat dari yang punya.

Dari kisah di atas, kita dapat mengambil hikmah bahwa, jangan biarkan orangtua Anda berangkat ke tempat wisata, apalagi ke luar negeri yang jauh. Kisah yang mirip pernah saya ungkapkan dalam tulisan bertitel Kai Hintalu Naik Haji, cerita tentang bagaimana banyaknya kesulitan yang dialami orang yang sudah tua jika dibiarkan bepergian sendiri ke luar negeri.

Janganlah memberikan kebahagiaan separuh nilai kepada orangtua. Tentu orangtua akan bahagia jika  anaknya memberikan fasilitas dan kesempatan untuk melancong ke mana-mana. Akan tetapi mereka akan lebih bahagia jika pemberian itu disertai perhatian, dan kerelaan kita untuk meluangkan waktu bersama orangtua. Itulah kebahagiaan dengan nilai penuh, yang membuat orangtua, terutama ibu,  rela memberikan telapak kakinya untuk dihuni sebagai syurga bagi anak-anaknya…..

KURIKULUM DENGAN BANYAK WAJAH

Sejak tahun 2013 lalu, pemerintah sangat gencar meluncurkan kurikulum baru, yang disebut sebagai Kurikulum 2013. Pemerintah meyakini  bahwa kurikulum ini mampu memperbaiki nasib bangsa ini ke depan, karena kurikulum ini berorientasi pada pendidikan karakter. Kabarnya, kurikulum ini merupakan jawaban Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terhadap lemahnya karakter anak didik yang dihasilkan dari proses pendidikan selama ini. Dengan kata lain, dikatakan bahwa kurikulum  ini merupakan upaya mewujudkan nation character building.

Dari sisi idealisme, mungkin kurikulum 2013 bisa mewakili harapan kita semua. Akan tetapi dari sisi praktek,  banyak sekali kendala yang akan dihadapi, antara lain :

Pertama, sebagian besar guru, saya kira tidak akan siap melaksanakan kurikulum 2013 ini. Sebagian besar guru di Indonesia adalah guru pengajar, bukan pendidik. Hal itu akan menyebabkan proses pendidikan di lembaga pendidikan sebagian besar hanya berupa transfer of knowledge, bukan transfer of value. Lagi-lagi yang dilakukan hanyalah upaya untuk menambah pengetahuan kognitif, bukan bagaimana memperbaiki sikap, perilaku, apalagi karakter. Bahkan dengan adanya program sertifikasi,  guru hanya terjebak pada upaya untuk mengejar target kurikulum dan jumlah jam mengajar yang ditetapkan oleh pemerintah, yakni minimal 24 jam seminggu. Dengan kata lain, guru kembali terjebak untuk mencapai target kuantitatif, bukan target kualitatif. Bukankah perbaikan karakter merupakan target kualitatif. Agar kurikulum 2013 bisa berhasil, dibutuhkan keteladanan guru, dan saya kira, keteladana n itulah yang sudah mulai hilang dari dunia pendidikan kita.

Dalam kaitannya dengan keteladanan ini, saya pernah melihat kejadian yang menggambarkan ironi  antara teori dan praktek di lapangan. Saat melakukan supervise kegiatan magang mahasiswa di sebuah SD di Kota Palangka Raya, saya melihat seorang bapak guru, sambil merokok, mengajarkan tentang pentingnya membuang sampah pada tempatnya. Setelah rokok yang dihisapnya habis beberapa saat setelah himbauannya yang bersemangat tersebut, ia membuang punting rokoknya di samping kakinya, serta memadamkannya dengan cara menginjak puntung rokok tersebut. Dalam hal ini si bapak guru telah membuat banyak kesalahan, antara lain merokok di depan kelas, membuang sampah sembarangan,  dan ini yang paling parah, ia telah melanggar himbauannya sendiri. Benar-benar guru yang tidak bisa diteladani.

Kedua, pembelajaran kognitif masih akan mendominasi implementasinya di lapangan. Jangan berharap bahwa karakter akan terbentuk dari pembelajaran berorientasi kognitif. Pembentukan karakter tidak bisa melalui proses pengajaran, akan tetapi melalui proses pendidikan, dan proses pendidikan membutuhkan keteladanan. Karakter tidak dapat dipaparkan, tetapi harus dicontohkan.

Ketiga, jika karakter merupakan roh dari kurikulum ini, maka pertanyaan mendasar adalah bagaimana mengukur perkembangan karakter itu. Bukankah karakter itu melambangkan perilaku, yang perubahannya baru terlihat dalam jangka panjang.  Terlau absurd jika yang dimaksudkan perubahan karakter itu dapat dilihat dari adanya sikap positif terhadap sesuatu, sebagaimana disebutkan dalam panduan penilaian Kurikulum 2013 yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sikap memiliki kecenderungan yang dapat berubah dalam jangka tertentu, tetapi perilaku dan karakter jauh lebih permanen.

Dengan berlandaskan pada Taksonomi Bloom, maka sistem penilaian Kurikulum 2013 juga memuat aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.  Harusnya, hasil belajar kognitif, afektif, dan psikomotor dipandang sebagai hasil belajar yang secara utuh tergambar dalam diri peserta didik dari mata pelajaran yang relevan. Dengan kata lain, ada mata pelajaran yang menekankan pada aspek kognitif, ada mata pelajaran yang menekankan pada aspek afektif, dan ada juga yang menekankan pada aspek psikomotor. Kenyataannya, penilaian semua mata pelajaran memuat aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Akibatnya, bisa terjadi seorang peserta didik memperoleh 5 untuk  nilai matematika, yang didalamnya memuat nilai sikap juga, sementara ia memperoleh nilai 8 untuk mata pelajaran Kewarganegaraan yang juga memuat nilai afektif. Bukankah nilai 8 untuk mata pelajaran Kewarganegaraan juga melambangkan bahwa peserta didik tersebut memiliki sikap yang baik sehingga memiliki perilaku dan karakter yang baik?. Mestinya, jika karakternya baik, maka nilai sikapnya terhadap matematika juga baik.

Jika yang dimaksudkan dalam penilaian itu adalah sikap terhadap mata pelajaran tertentu, bukankah itu tidak melambangkan kepribadian dan karakter utuh dari peserta didik?

Jika penilaian semua mata pelajaran memuat aspek sikap sebagai lambang dari perilaku dan karakter, maka akan ada kemungkinan peserta didik memperoleh nilai sikap yang berbeda-beda, yang juga melambangkan karakter yang berbeda-beda. Dengan kata lain, akan ada banyak wajah dan kepribadian peserta didik ……………………… Ayo renungkan!