Monthly Archives: Oktober 2014

Berusaha, Berdoa, lalu Bercermin

 

Beberapa waktu yang lalu, ada seorang teman bercerita kepada saya , tentang teman lama kami yang membujang. Teman saya tadi telah menasehati teman kami yang membujang tadi dengan 3 kalimat pendek tentang mencari jodoh, yakni : berusaha, berdoa, lalu bercermin. Maksudnya, dalam hal mencari jodoh, hal pertama yang harus dia lakukan adalah berusaha. Jika usahanya terus gagal, maka usaha itu harus dibarengi dengan doa. Dan akhirnya, jika usaha dan doa itupun gagal, maka usaha terakhir yang harus dilakukan adalah ini : bercermin. Walaupun guyonan, atau bahkan sindiran teman tadi dalam konteks pencarian jodoh, tapi ternyata hal itu juga berlaku dalam bidang kehidupan kita yang lain.

Dalam kaitan ini, saya jadi teringat kata-kata jitu pak Jusuf Kalla, yang disampaikan pada saat percobaan aerial  seeding atau penebaran bibit tanaman melalui udara dengan menggunakan helikopter, yang merupakan kegiatan kerjasama Universitas Muhammadiyah Palangkaraya dengan PT Hutan Amanah Lestari (HAL). PT HAL ini merupakan perusahaan milik Kalla Group yang bergerak di bidang penghijauan dan perkebunan. Beliau mengatakan bahwa, untuk bisa meraih sukses dalam hidup, paling tidak dibutuhkan 4 hal, yakni : Kecerdasan, Keberanian, Kenekatan, dan Doa. Artinya, untuk bisa meraih kesuksesan dalam hidup, seseorang haruslah cerdas, baik cerdas intelektual maupun cerdas emosional dan cerdas sosial. Akan tetapi kecerdasan belumlah cukup jika tidak dibarengi dengan keberanian, khususnya keberanian menghadapi tantangan hidup dan keberanian menghadapi risiko. Meskipun demikian, kecerdasan dan keberanian belumlah cukup jika tidak dibarengi dengan kenekatan. Dalam era persaingan seperti sekarang, kenekatan dibutuhkan untuk meraih segala kesempatan  yang memungkinkan, karena jika tidak nekat maka kesempatan itu akan diraih orang lain. Menariknya, menurut beliau, cerdas, berani, dan nekat, ternyata juga belum cukup mampu menghantarkan kesuksesan seseorang, jika tidak dibarengi dengan doa. Doa merupakan bentuk penyerahan diri manusia ketika dirasakan usahanya sudah maksimal.

Yang menjadi masalah adalah, bagaimana jika kecerdasan sudah kita miliki, demikian pula dengan keberanian dan kenekatan. Usaha itu juga sudah dibarengi dengan doa, akan tetapi belum juga membuahkan hasil yang kita harapkan ? Maka pertanyaan akhir yang harus kita jawab adalah, sudahkah kita bercermin ?

Bercermin merupakan upaya introspeksi diri. Bercermin merupakan cara kita melihat diri apa adanya. Cermin merupakan media yang mampu memotret diri kita secara obyektif. Jadi, jika segala upaya yang kita lakukan sudah maksimal, sudah dibarengi dengan doa, dan ternyata masih belum mencapai hasil yang diharapkan, maka bercerminlah. Potretlah diri kita, carilah tahu melalui “cermin pikiran” kita, apakah diri kita masih memiliki kekurangan di hadapan orang lain, dan terutama di hadapan Tuhan ? Hasil refleksi itu akan menyebabkan kita memperbaiki diri kita, dan insya Allah Tuhan akan membukakan keberhasilan yang lain untuk kita, amiiin……

Lupa Menghargai

Saya sudah katakan dalam tulisan sebelumnya, bahwa lupa itu anugrah, lupa itu manusiawi, sekaligus lupa itu harus disyukuri sebagai sebuah karunia Tuhan. Karena lupa itulah, maka kita bisa melupakan kepahitan dan problema hidup. Akan tetapi,  karena lupa itu pula, kita menjadi lupa menghargai.

Kita sering lupa menghargai (baca mensyukuri), bahwa Tuhan telah memberikan sifat lupa pada kita. Karena lupa itu sudah menjadi bagian dari keseharian kita, maka kita menjadi lupa mensyukurinya. Memang segala sesuatu yang kita bisa nikmati setiap hari, cenderung akan membuat kita lupa, bahwa hal itu ada dalam hidup kita, bahwa hal itu adalah bagian dari apa yang kita bisa nikmati selama ini. Mungkin karena seringnya menikmati anugrah tersebut, maka kita lupa bahwa kita diberikan karunia oleh Tuhan.

Kita juga sering lupa, bahwa orang lain di sekitar kita, telah merelakan waktu, tenaga, fikiran, atau bahkan hidupnya untuk kita. Langsung ataupun tidak langsung, banyak orang di sekitar kita yang merelakan dan mengabdikan hak-haknya kepada kita. Ada orang yang merelakan hidupnya untuk menjadi pasangan hidup kita, ada yang merelakan waktu, tenaga dan fikirannya untuk menjadi anak buah atau bawahan kita, ada orang lain yang bahkan merelakan haknya untuk sama-sama mendapatkan luasan jalan yang sama dengan kita, dan mereka terpaksa meminggirkan kendaraannya karena mobil kita mau lewat dengan klakson yang nyaring. Tentu ada ribuan contoh bisa kita cantumkan di sini, yang membuktikan betapa orang lain telah berkorban untuk kita, sementara kita lupa untuk menghargainya.

Ketika saya bertanya kepada teman saya yang pakar psikologi, kenapa kita bisa lupa ? jawabannya katanya mudah, yakni karena kita tidak kepepet, he he. Tentu saja jawaban itu saya harus iyakan. Tapi jika direnungkan, jawaban teman saya tadi ada betulnya. Kita sering lupa kepada petani yang menanam dan menghasilkan padi agar kita bisa makan dengan lahap dan nikmat, dan pada saat kita tidak lagi menemukan beras, maka baru kita ingat betapa pentingnya profesi petani. Kita melupakan jasa petani ketika kita tidak kepepet.

Kita juga sering lupa tentang karunia Tuhan melalui  tumbuhan, yang  menyediakan oksigen untuk kita bernafas. Dan kita baru sadar tentang pentingnya udara segar, ketika kita kepepet, terutama pada saat adanya kabut asap yang menjadi langganan tahunan setiap musim kemarau. Dalam kondisi demikian, kita juga bahkan lupa bahwa Tuhan telah memberikan udara segar selama 10 bulan yang lalu, dan hanya 2 bulan Tuhan memberikan udara penuh kabut asap kepada kita. Meskipun demikian, kita juga lupa menghargai bahwa, sekalipun setiap tahun selama 2 bulan kita sesak bernafas karena kabut asap, tokh akhirnya kita masih hidup.

Untuk itu, kita harus belajar mensyukuri  berbagai karunia Tuhan kepada kita, belajar menghargai apa yang telah direlakan orang lain kepada kita, dan menghindar dari sifat lupa menghargai. Lupa itu adalah anugrah Tuhan kepada kita, tetapi lupa menghargai, lupa mensyukuri karunia Tuhan, bisa membawa mudharat bagi kehidupan kita. Lupa menghargai akan membawa kita menjadi orang yang sombong sehingga menyakiti orang lain. Semoga kita terhindar dari sifat lupa menghargai…………..