Monthly Archives: November 2014

Jika Tidur itu Ibadah

 

Saya terinspirasi tentang hal ini ketika saya mendengar kultum (kuliah atau ceramah tujuh menit) yang disampaikan oleh salah satu staf saya di Universitas Muhammadiyah Palangkaraya. Selama satu tahun terakhir, di Universitas Muhammadiyah Palangkaraya memang kita tradisikan  untuk menyampaikan kultum khususnya setiap shalat Ashar berjamaah di mesjid kampus. Penyampai kultumnya digilir, dari Rektor sampai pimpinan unit dan lembaga serta beberapa staf. Temanya pun dibuat bebas dan ringan, sehingga hampir semua temanya menarik untuk disimak, dari tema yang bertajuk Bantal, Mimpi, sampai pada Tiidur. Bahkan gaya masing-masing penyampai kultum, yang umumnya baru pertama kali naik mimbar, juga  menarik untuk diamati.

Alfani, kabag tata usaha FKIP, menyampaikan tema tentang Tidur, tentu saja dalam kacamata Islam. Dia menyampaikan bahwa, ada beberapa tuntunan tidur yang Islami, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Antara lain, sebelum tidur kita harus membiasakan untuk berwudhu dan berdoa.  Posisi saat tidur disarankan untuk miring ke kanan, bukan telentang, tengkurap, ataupun miring ke kiri.

Dalam konteks yang pertama, kebiasaan kita berdoa sebelum tidur akan membawa kita pada tidur yang damai sekaligus berkualitas. Berdoa sebelum tidur merupakan bentuk kepasrahan total kita kepada Tuhan, karena kita tidak pernah tahu apakah kita masih akan diberikan Tuhan kepanjangan umur sehingga bisa melihat matahari pagi esok harinya. Secara psikologis, berdoa sebelum tidur juga akan membuat ketenangan pikiran dan membuat pikiran dan tubuh kita lebih siap untuk tidur, sehingga akan diperoleh tidur yang berkualitas tanpa mimpi buruk.

Dalam konteks yang lain, ternyata posisi tidur juga menentukan kualitas tidur. Beberapa riset membutikan bahwa posisi tidur berpengaruh terhadap kualitas tidur dan kualitas hidup seseorang. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr. Chiara Cirelli dari Wisconsin University, dan diterbitkan dalam Journal of Neuroscience, membuktikan bahwa tidur yang berkualitas akan cenderung meningkatkan produksi sel myelin dan oligodendroctytes, yakni sel-sel yang berperan penting dalam perbaikan dan perkembangan otak.

Jika tidur dengan posisi miring ke kiri, maka bobot tubuh kita akan membebani  jantung, padahal pada saat yang sama jantung kita harus memompa darah, yang dalam jangka panjang akan menyebabkan kerusakan pada jantung. Menurut http://inti-kesehatan.blogspot.com, posisi tidur miring yang terbaik adalah seperti “cara tidur bayi”, yaitu dengan punggung melengkung dan kaki sedikit menekuk kea rah dada. JIka dikaitkan dengan kebiasaan Nabi Muhammad dalam tidur, beliau tidur miring ke kanan dengan meletakkan telapak tangan kanannya di pipi kanannya, persis seperti tidurnya bayi.

Point penting yang ingin saya sampaikan adalah bahwa, kita sering menganggap remeh terhadap tidur, karena tidur sudah menjadi rutinitas kita setiap hari. Padahal ternyata tidur itu banyak mempengaruhi kualitas hidup kita. Tidur yang betkualitas akan memberikan kesegaran pada saat kita bangun, dan tentu saja akan menyebabkan kita lebih siap untuk beraktivitas. Apalagi jika kita bisa mencontoh tidurnya Nabi Muhammad, maka kita akan dapat pahala, karena telah menjalankan sunah Rasul.

Bisa kah kita bayangkan berapa besarnya pahala yang kita peroleh hanya dari aktivitas tidur saja? Hanya karena kita tidur sesuai tuntunan Nabi Muhammad ? Pada kenyataannya, kita rata-rata tidur selama 8 jam dalam sehari. Bayangkan perkaliannya dalam setahun, 8 jam x 365 hari = 2.920 jam. Jika kita hitung selama umur kita, bayangkan berapa banyak waktu yang telah kita gunakan untuk beribadah hanya dengan cara tidur? Masya Allah …………………………………..