Monthly Archives: Desember 2014

TAKDIR SEBAGAI SISTEM

 

Saat saya masih menjadi siswa SMA, saya tidak pernah memiliki cita-cita untuk menjadi guru atau dosen. Waktu itu, saya lebih sering berangan-angan bekerja sebagai tenaga ahli matematika atau ahli fisika, bekerja di laboratorium dengan pakaian khusus, melakukan percobaan, dan menemukan sesuatu yang baru dalam bidang matematika dan fisika. Saya lebih terobsesi untuk melakukan berbagai eksperimen,  meramu rumus-rumus, mencampur berbagai bahan kimia, sebagaimana sering saya tonton di film-film fiksi ilmiah kala itu. Itulah sebabnya saat pemilihan jurusan, saya lebih memilih masuk ke jurusan A1 (Fisika) ketimbang jurusan A2 (Biologi), A3 (IPS) atau A4 (Bahasa). Waktu itu, pilihan tersebut saya sadari betul arah implikasinya, dan pilihan itu bukan semata-mata karena saya sangat suka pelajaran Fisika dan Matematika.

Saat tamat SMA, saya ditawari untuk kuliah melalui jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan), semacam proses seleksi siswa berpotensi, dan karena kurangnya informasi, maka saya sengaja memilih jurusan Pendidikan Matematika. Saya mengira bahwa pada jurusan Pendidikan Matematika, kita dididik untuk menjadi ahli matematika. Kata “pendidikan” waktu itu saya maknai sebagai “proses mendidik seseorang”. Tentu saja saya cukup terkejut ketika saya diterima dan mengikuti kegiatan orientasi  mahasiswa baru, bahwa ternyata kata “pendidikan” itu bermakna bahwa jurusan Pendidikan Matematika itu adalah mendidik untuk menjadi calon guru matematika. Tapi apa lacur, nasi sudah menjadi bubur, sudah terlanjur diterima di jurusan tersebut, maka dijalani saja walaupun tidak sesuai dengan angan-angan di waktu SMA. Waktu itu saya sadari bahwa, barangkali memang saya sudah ditakdirkan untuk menjadi guru atau dosen, menjadi orang yang nantinya akan selalu berdiri di depan kelas dan menjadi pusat perhatian siswa di kelas. Padahal saat SMA, saya adalah orang yang paling malas sekaligus gugup jika harus berdiri dan berbicara di depan banyak orang.

Meskipun demikian, dalam perjalanan hidup selanjutnya, proses pencarian identitas diri dan potensi saya, tidak seratus persen saya pasrahkan pada takdir. Dalam masa-masa penyelesaian kuliah di Pendidikan Matematika itu, saya banyak merubah pandangan saya tentang takdir. Misalnya tentang stigma oleh keluarga saya, bahwa saya tidak mungkin bisa menyelesaikan kuliah karena saya berasal dari keluarga pedagang, yang memiliki tradisi dagang turun temurun, sehingga seolah-olah saya juga dilahirkan untuk menjadi pedagang.

Dalam perkembangan itu, saya lebih sepakat pada pandangan bahwa takdir itu adalah sebuah sistem, bukan suatu hasil akhir. Tuhan menciptakan takdir sebagai sebuah hukum, bukan cetakan pola yang melekat pada diri kita. Disebut sistem, karena takdir bekerja mengikuti hukum dan proses tertentu. Misalnya Tuhan sudah menciptakan sistem takdir, bahwa jika seseorang bisa berhemat dan suka menabung, maka suatu saat ia akan kaya. Hemat pangkal kaya, kata pepatah. Sistem seperti itu adalah takdir, artinya orang yang hemat dan suka menabung itu ditakdirkan akan kaya.  Itulah sebabnya Nabi Muhammad pernah melarang seorang sahabat untuk melewati suatu daerah yang sedang dilanda wabah penyakit, takut sahabat itu tertular penyakit. Dalam sistem tersebut, seseorang ditakdirkan akan tertular penyakit jika ia berinteraksi dengan orang lain yang terkenan wabah. Sebaliknya, orang ditakdirkan tidak akan tertular wabah tersebut jika ia menghindari interaksi atau berada di wilayah yang kena wabah tersebut.

Pengalaman lainnya juga menarik untuk saya ungkapkan. Sebagai mahasiswa penerima Tunjangan Ikatan Dinas (TID) pada jurusan Pendidikan Matematika, saya terikat dengan ketentuan bahwa setelah lulus saya harus bekerja di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bisa jadi guru maupun jadi dosen. Tetapi saya juga memperoleh informasi bahwa jika saya terlambat menyelesaikan studi, maka saya tidak akan diangkat menjadi dosen, tetapi akan diangkat menjadi guru di daerah pedalaman. Untuk itulah saya berusaha siang malam secepatnya menyelesaikan skripsi dan studi saya, yang akhirnya menyebabkan saya bisa menyelesaikan studi tepat waktu. Hasilnya, saya diangkat menjadi dosen. Sedangkan beberapa teman seangkatan, yang juga mahasiswa penerima TID, terpaksa ditempatkan menjadi guru matematika di SMA karena terlambat menyelesaikan studinya. Dalam hal ini, Tuhan telah menciptakan takdirsebagai suatu sistem, yakni jika kita berusaha keras, maka kita akan mampu menyelesaikan studi tepat waktu, dan akhirnya memperoleh hasil yang diharapkan pula.

Memandang takdir sebagai suatu sistem, bukan sebagai hasil akhir, akan membawa kita pada usaha optimal untuk mencapai harapan dan keinginan-keinginan kita. Jika ternyata usaha kita sudah optimal, tetapi hasil yang kita capai masih belum sesuai harapan, maka hal itu juga merupakan sistem takdir. Karena Tuhan juga menciptakan sistem takdir yang lain, mungkin sedikit dari sistem takdir itu,  bahwa tidak semua usaha yang kita lakukan itu berhasil dengan baik. Wallahu’alam……………

MENYELESAIKAN AKAR MASALAH

 

Ada hal menarik dari kabinet yang telah dibentuk pak Jokowi, presiden kita yang fenomenal. Disebut menarik karena ternyata susunan kabinet itu tidak mampu memuaskan semua orang, dan itu wajar. Selain itu, nama-nama yang masuk juga banyak yang unpredictable, dan saya kira itu juga salah satu ciri khas pak Jokowi. Yang juga banyak mendapat sorotan adalah masuknya Susi Pudjiastuti sebagai menteri Kelautan dan Perikanan, karena banyak pihak yang meragukan kemampuannya.

Seolah menjawab tantangan dan ingin membuktikan kemampuannya, ibu Susi langsung membuat gebrakan, antara lain dengan menangkap kapal-kapal asing yang selama ini melakukan illegal fishing di perairan Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, kapal-kapal asing tersebut ditembak, terbakar, kemudian ditenggelamkan. Kata ibu Susi, hal ini merupakan bukti bahwa pemerintah saat ini berkomitmen untuk memberantas  illegal fishing yang dilakukan kapal-kapal asing di perairan Indonesia, sehingga Indonesia dirugikan ratusan trilyun rupiah setiap tahunnya. Meskipun ternyata upaya menenggelamkan kapal asing pencuri ikan itu bukanlah hal baru, karena TNI AL sudah pernah menenggelamkan 4 kapal asing pada tahun 2003, dan menteri di jaman presiden SBY juga mengaku pernah melakukan hal yang sama, akan tetapi kelebihan ibu Susi adalah kemampuannya mengelola isu itu sehingga terpublikasi dengan baik, yang akhirnya  mampu mendongkrat citra beliau.

Pembakaran kapal asing memang masih menuai kontroversi. Banyak pihak mengkhawatirkan bahwa pembakaran dan penenggelaman kapal asing itu bisa merusak hubungan Indonesia dengan negara lain. Sebagian pihak lagi menyayangkan penenggelaman itu, karena mungkin kapalnya masih bisa digunakan jika seandainya dihibahkan kepada nelayan kita.

Meskipun demikian,  penenggelaman kapal asing ternyata juga tidak mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh nelayan kita. Sebagian besar nelayan kita adalah nelayan tradisional, yang kehidupannya sangat tergantung pada cuaca. Mereka juga menggunakan kapal-kapal kecil dengan peralatan tangkap seadanya. Bahkan sebagian lagi hanya merupakan buruh nelayan, yang menangkap ikan di perairan laut menggunakan kapal milik pemodal besar. Artinya, pemberantasan illegal fishing, apapun bentuknya, termasuk dengan cara menenggelamkan kapal-kapal asing pencuri ikan, akan memiliki efek kecil bagi nelayan kita. Apakah kemudian dengan memberantas illegal fishing, maka pendapatan nelayan kita meningkat ? Saya kira tidak. Apakah ada jaminan bahwa ikan-ikan yang selama ini ditangkap oleh kapal asing, yang katanya telah menyebabkan kerugian negara ratusan trilyun rupiah per tahun itu, kemudian berhasil ditangkap oleh nelayan kita, atau paling tidak meningkatkan peluang nelayan kita untuk menangkap lebih banyak ikan ? Saya kira juga tidak, karena tidak ada jaminan juga bahwa ikannya masih berada di perairan Indonesia, jangan-jangan ikannya sudah pindah atau lari ke perairan internasional ……

Masalah yang dihadapi nelayan kita adalah ketidakmampuan bersaing dengan kapal asing dan pemodal besar nasional. Hal ini terjadi karena lemahnya SDM yang mereka miliki, kurangnya modal, peralatan, dan teknologi. Saat kapal asing sudah menggunakan teknologi berbasis sonar untuk menemukan lokasi gerombolan ikan, dengan menggunakan kapal-kapal besar dan peralatan tangkap memadai, sementara  nelayan kita masih mengandalkan pengalaman, perasaan, dan bermodal doa dari keluarga yang ditinggalkan di rumah. Seharusnya, atau sebaiknya, penyelesaian masalah yang dihadapi nelayan kita, difokuskan pada peningkatan daya saing itu, dengan penambahan sarana, peningkatan penguasaan teknologi.

Selama ini, dan mungkin masih untuk waktu mendatang, bangsa kita menjadi terbiasa pada penyelesaian masalah secara parsial, bukan penyelesaian yang komprehensif. Bahkan cenderung terjebak pada kebijakan simbolistik, sehingga masalah yang dihadapi  hanya terselesaikan dalam tataran permukaan saja. Mestinya yang diselesaikan adalah akar masalahnya, bukan gejalanya.

 

 

TUGAS MATA KULIAH STATISTIKA MATRIKULASI MAP

Jawab soal-soal berikut secara singkat dan jelas

  1. Bedakan data berikutmenjadi data diskritdan data kontinyu, sertaberikanalasan :

a. Jumlahpegawai

b. Makanankesukaan

c. Kinerjapegawai

d. Kecepatanberlari

e. Motivasiberprestasi

f.  Budayakerja

g. Jumlahinsentif

 

2. Bedakan data berikut berdasarkan skala NOIR, berikan alasannya berdasarkan ciri-cirinya.

a. Hobby

b. Prestasikerja

c.  Budayaorganisasi

d. Jumlah jam kerjapegawai

e.  Persentasekehadiranpegawai

f.  Suhutubuh

g. Tahunkelahiran

h. Kecepatandalammenyelesaikanpekerjaan

i. Motivasikerja

 

3. Hitunglah rata-rata, kemudiantentukan median dan modus darisebaran data berikut

6  7  5  6  5  6  7  6  5  7  8  6  7  6  5  6  7  5  4  5  6  7  8  7  6  7  5  6  5  6  5  6  5           7  8  9  5  4  6  7    10   5  6  5  7  5  7  8  9  7  6  5  6  7  5  6  4  5  6  4  3  3

 

  1. Kelompokkan data padasoalnomor 3 kedalamtabeldistribusibergolongdengan format :

Sebaran      Frekuensi

data

—————————

3-4                ………..

5-6                ………..

7-8               ………..

9-10             ………..

YANG PALING DEKAT

 

Saya termenung ketika mendengar seorang khatib menyampaikan khutbah di masjid tempat saaya tinggal. Temanya menarik, yakni seputar  beberapa pertanyaan yang pernah diajukan oleh Imam Al-Gazali kepada murid-muridnya. Pertanyaan-pertanyaan itu dipaparkan kembali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin karya beliau.

Ceritanya begini. Pada suatu pertemuan, Imam Al-Gazali menanyakan kepada murid-muridnya tentang apa yang paling dekat dengan mereka. Ada yang menjawab bahwa yang paling dekat adalah tetangga di samping rumah kita, dan atasa jawaban itu Imam Gazali membenarkan.  Tetangga kita memang orang yang paling dekat, bahkan jika dibandingkan dengan saudara dan sanak family kita. Akan tetapi menurut Imam Al-Gazali, masih ada yang lebih dekat dari tetangga kita. Murid yang lain menjawab bahwa yang paling dekat adalah kekasih kita, dan Imam Al-Gazali pun juga membenarkan. Kata beliau, benar bahwa kekasih kita adalah orang yang paling dekat dengan kita. Saat kita seang dan sedih, maka  kekasih kita  adalah orang yang selalu bersama kita.  Akan tetapi menurut Imam Al-Gazali, masih ada yang lebih dekat lagi daripada  tetangga dan kekasih.

Jawaban demi jawaban dari muridnya dibenarkan oleh Imam Al-Gazali. Tetapi sang imam tetap mengatakan bahwa masih ada yang paling dekat dengan kita.

Akhirnya, sang imam menjelaskan bahwa yang paling dekat dengan kita adalah kematian. Ya. Kematian merupakan hal paling dekat dalam kehidupan kita, karena ia bisa datang kapan saja dan di mana saja. Ia memang lebih dekat dibanding tetangga kita, karena tetangga berdatangan beberapa saat setelah kematian menjemput  kita, sehingga tetangga kalah cepat dan kalah dekat dibanding kematian itu. Ia juga lebih dekat dibanding dengan orang terkasih di sekitar kita, yang menangisi kita setelah kematian datang menjemput, sehingga juga ia kalah dekat  dan kalah  cepat dibanding kematian itu.

Bukankah pada saat tetangga datang menjenguk kita, mereka terlebih dahulu mengetuk pintu ? Bukankah saat orang terkasih datang, mereka terlebih dahulu memberi tahu kita?  Tetapi, kematian datang tanpa pemberitahuan ataupun mengetuk pintu terlebih dahulu……..

BUKAN HANYA SOAL JAM KERJA

 

Saya masuk dalam lingkungan organisasi Muhammadiyah, seingat saya, adalah sejak tahun 1990. Waktu itu saya diminta menjadi guru matematika honorer di SMA Muhammadiyah Palangka Raya,  khususnya untuk pagi hari. Sedangkan pada sore dan malam hari, saya menjadi staf perpustakaan Universitas Muhammadiyah Palangkaraya. Walaupun demikian, saya mengenal dan tertarik dengan Muhammadiyah sejak tahun 1986, saat saya masih duduk di kelas II SMA. Awalnya tertarik untuk sholat di masjid At-Taqwa Buntok, yang merupakan mesjid Muhammadiyah. Tetapi tertariknya lebih karena faktor jarak, sebab untuk sholat di masjid lain, saya harus melalui mesjid At-Taqwa milik Muhammadiyah tersebut.

Selama terlibat dalam persyarikatan Muhammadiyah,  saya  melihat bahwa  modal utama persyarikatan Muhammadiyah untuk bisa maju adalah keikhlasan dalam bekerja. Orang-orang yang mengelola amal usaha Muhammadiyah yang kemudian  maju pesat, selalu berawal dari pemikiran dan usaha yang ikhlas dalam membangun dan mengembangkan amal usaha Muhammadiyah.Orang-orang seperti ini, tanpa mengenal batasan waktu dan jam kerja, mewakafkan diri dan potensinya untuk kemajuan amal usaha persyarikatan. Merekalah orang-orang yang bekerja penuh waktu dalam artian sebenar-benarnya, karena 24 jam dalam setiap waktu harinya, digunakan untuk memikirkan dan mengembangkan amal usaha.

Sayangnya, komitmen untuk mewakafkan dirinya bagi kemajuan amal usaha persyarikatan, saat ini mulai luntur dari para pengelolanya. Atas alasan profesionalisme, maka adanya batasan jam kerja dianggap sebagai katup pembatas, yang mengakibatkan  kreativitas dan inovasinya berhenti sesuai jam kerja yang telah ditetapkan. Bahkan saya kadang miris melihat para karyawan di amal usaha milik persyarikatan, yang mengantri hanya untuk menekan tombol daftar hadir elektronik, seolah-olah waktu jam kerja tersebut tidak boleh terlewat sedikitpun.

Seharusnya, ini bukan soal jam kerja saja. Ini soal bagaimana mengisi waktu pada jam-jam kerja yang telah ditentukan, Apakah orang yang bekerja di amal usaha Muhammadiyah, seperti di UM Palangkaraya ini, telah memanfaatkan waktu dan jam kerja yang telah ditentukan, untuk mengembangkan amal usaha Muhammadiyah ? Apakah jam kerja yang berjumlah 8 jam sehari itu, telah bisa digunakan secara bermakna ?

Lebih dari itu, bekerja di Muhammadiyah itu  bukan hanya semata-mata soal jam kerja. Bukan semata-mata kita masuk dan mengisi daftar hadir setiap hari kerja pada pukul 07.30, kemudian pulang pada pukul 16.30. Jika kita memang punya komitmen untuk memajukan amal usaha Muhammadiyah, maka jam kerja itu hanya pembatas waktu, tetapi tidak akan membatasi pikiran, kreativitas dan inovasi kita untuk mengembangkan amal usaha Muhammadiyah. Seharusnya, pikiran, kreativitas, dan inovasi kita, jauh melintasi serta melampaui jam kerja itu.

Relevan dengan itu, kalau Anda adalah siswa atau mahasiswa, maka belajar di Muhammadiyah itu bukan hanya sekedar soal jam kuliah, bukan hanya soal Anda memenuhi daftar hadir setiap jam belajar atau jam kuliah. Yang paling penting adalah, apa yang telah Anda dapatkan, atau Anda lakukan, di saat-saat Anda menggunakan jam belajar atau jam kuliah tersebut.

Jadi, keberadaan kita semua di Muhammadiyah itu bukan hanya soal jam kerja, bukan hanya soal jam kuliah. Ini soal bagiaman kita mengisinya menjadi aktiviats bermakna. Itulah cara hidup ber-Muhammadiyah yang benar………