Monthly Archives: Maret 2015

SOAL STATISTIKA PGSD (27 MARET 2015)

Seorang peneliti menduga bahwa rata-rata usia nikah pada populasi pemuda di Palangka Raya adalah kurang dari 17 tahun. Untuk membuktikan dugaan tersebut, dilakukan penelitian sampel sebanyak 40 pemuda yang diambil dari populasi, dengan data usia nikah sebagai berikut :

15  18  13  12  15  16  18  20  22  23  24  13  16  17  18  17  20  19  18  17  18  20  23

20  21  22  24  20  19  15  16  17  15  16  15  18  17  18  20  21

Ujilah kebenaran dugaan tersebut.

 

MENGATUR ORANG INDONESIA

 

Saya berangkat haji pertama kali tahun 2006, sebagai Tim Pembimbing Haji Daerah (disingkat TPHD). Sebagai petugas, tentu banyak suka duka yang saya alami. Sukanya, tentu saja karena saya dapat berangkat haji secara gratis karena seluruh biaya ditanggung oleh pemerintah daerah. Sedangkan dukanya, kita harus siap berjibaku untuk melayani  jamaah, bahkan harus siap dimarahi, karena jamaah haji umumnya beranggapan bahwa petugas haji dibiayai dari ONH yang mereka setorkan.

 

Dari semua masalah yang dialami, maka yang paling sulit adalah mengkoordinir dan mengatur jamaah. Sistem penyelenggaraan haji yang melibatkan ratusan ribu jamaah, tentu saja membutuhkan sistem pengorganisasian yang kompleks tetapi terpadu karena akan saling terkait satu sama lain. Terlambatnya kedatangan seorang jamaah untuk berkumpul di suatu tempat yang telah ditentukan misalnya, akan menyebabkan keterlambatan keberangkatan suatu rombongan, sehingga berimbas pada keberangkatan rombongan lain yang kebetulan menggunakan bus yang sama. Masalahnya adalah, jamaah Indonesia memang sulit untuk diatur. Sangat heterogennya jamaah jika ditinjau dari beberapa sisi, dan sistem serta materi manasik haji yang terlalu berorientasi pada pelaksanaan ibadah, telah menyebabkan kesulitan bagi petugas untuk mengkoordinir jamaah. Masalah ketidakdisiplinan waktu, masalah antri, kebersihan, dan pembagian nasi kotak catering yang tidak pernah cukup, merupakan masalah umum ysng dialami petugas haji. Begitulah sulitnya mengatur orang Indonesia.

 

Contoh lainnya dapat kita lihat saat naik pesawat terbang yang berebutan, seolah olah tidak kebagian tempat duduk. Hal yang sama juga dapat kita lihat pada saat akan turun pesawat. Pada saat pesawat masih taxing menuju terminal kedatangan, sudah banyak penumpang yang berdiri dan membuka kabin, atau menghidupkan HP, padahal jelas hal itu dilarang dalam standar penerbangan.

 

Anehnya, masalah serupa juga terjadi pada mahasiswa. Jangan dikira bahwa mahasiswa mahasiswa kita yang notabene merupakan kelompok berpendidikan tinggi dan terpelajar itu, merupakan orang orang yang mudah untuk dikoordinir. Saya  mengamatinya pada saat penjemputan mahasiswa yang melaksanakan kegiatan KKN dan PPL di wilayah Thailand Selatan. Saat selesai upacara penutupan,  seharusnya mahasiswa langsung menuju bus yang telah ditentukan sebelumnya. Kenyataannya, sebagian besar mahasiswa tetap sibuk mengwmbil foto di sana sini, sehingga jadwal keberangkatan bus tertunda beberapa jam. Koordinator acara tampaknya mulai putus asa menghimbau mahasiswa untuk segera menaiki bus melalui pengeras suara.  Padahal, ketepatan waktu pemberangkatan bus sangat penting karena terkait dengan acara dan masalah lainnya, misalnya terkait dengan jam buka tutup border perbatasan Thailand dan Malaysia. Padahal, sebagian besar mahasiswa tersebut memilih pulang ke tanah air melalui Kuala Lumpur via jalan darat sehingga harus melintasi perbatasan Thailand-Malaysia.

 

Uniknya, sekalipun sulit di atur dan diarahkan, orang Indonesia itu menjadi patuh jika ditakut takuti dengan sanksi. Dalam suatu rombongan dosen pada suatu kunjungan ke luarnegeri, saya pernah tergabung dengan beberapa dosen yang kurang disiplin, terutama dari segi waktu, sehingga beberapa dosen tersebut selalu ditunggu pada saat keberangkatan. Akhirnya, penyelenggara tur mengambil sikap tegas, dan mengumumkan bahwa jika ada anggota rombongan yang tidak ontime, maka akan ditinggal. Ternyata ancaman itu cukup ampuh untuk mengatasi masalah ketidakdisiplinan.  Sang dosen yang biasanya datang terlambat dan selalu ditunggu, ternyata datang jauh lebih awal dibanding dosen yang lain, walaupun sambil mengomel karena merasa menunggu terlalu lama. Rupanya, ada teman yang menginformasikan ke beliau bahwa waktu berkumpulnya dimajukan satu jam dari kesepakatan semula, maka jadilah beliau datang satu jam lebih awal dari kesepakatan.

 

Dari fenomena tersebut ternyata,  orang Indonesia itu bisa lebih disiplin dan tertib jika dipaksa.  Sulit mengharapkan kedisiplinan yang tumbuh sebagai suatu kesadaran dan kebutuhan. Mungkin seperti itulah mental orang yang lama dijajah.

Mari kita buktikan bahwa  penjajahan Belanda dan Jepang pada masa lalu, tidak meninggalkan bekas pada mentalitas dan perilaku kita………

ORANG BIASA YANG LUARBIASA

 

Pada saat saya berkunjung ke Thailand Selatan di bulan Maret 2015, tepatnya di provinsi Pattani dan Yala serta Narathiwat, ada seorang kyai pimpinan pondok pesantren di sana,  pada saat memberikan sambutan dalam sebuah acara formal, mengatakan bahwa beliau hanyalah orang biasa. “Saya hanyalah orang biasa, saya tidaklah pernah merasai tingkat pendidikan formal, selain hanya pondok pesantren”  kata pak kyai  dalam bahasa Melayu yang tertatih tatih. Padahal, beliau merupakan salah satu tokoh yang disegani di kawasan Patani besar (dengan tulisan hanya satu huruf  t pada kata Patani). Patani besar merupakan  istilah untuk kawasan Thailand Selatan yang mencakup provinsi  Yala,  Narathiwat, Pattani sendiri, dan Sonkla, yang mayoritas didiami oleh etnis Melayu beragama Islam. Kiprah dan pemikiran beliau bersama  beberapa orang lainnya, terbukti telah mulai membuka wawasan masyarakat di kawasan tersebut tentang pentingnya pendidikan. Beliau mencoba mendorong para pemuda Patani untuk menuntut ilmu di beberapa negara tetangga seperti Malayasia dan Indonesia, serta beberapa negara Islam di Timur Tengah. Saya katakan kepada pak kyai, bahwa beliau adalah salah seorang yang memiliki kiprah luarbiasa di kawasan Patani.

Anggapan bahwa mereka adalah orang orang biasa, juga pernah disampaikan oleh teman saya, yang merupakan seorang tokoh muda Patani, dan merupakan partner dari sang kyai  tadi dalam pemberdayaan pendidikan di kawasan Patani.  Pada suatu saat, saya pernah memuji pemikiran dan aktivitas yang dilakukann teman saya tadi, dan lagi lagi, teman saya tadi mengatakan bahwa “kami hanyalah orang orang biasa”. Saya tidak yakin apakah sikap merendah itu merupakan bagian dari budaya orang Patani, ataukah melambangkan ksederhanaan mereka. Yang jelas, ungkapan bahwa “saya hanyalah orang biasa” itu telah menggelitik hati saya, sehingga menimbulkan pertanyaan, siapakah sebenarnya orang orang biasa itu ? Dan sebaliknya, siapakah orang orang yang luar biasa itu ?

Menurut saya, klasifikasi “orang biasa” dan “orang luarbiasa” tentu tidak dapat kita ukur dari tinggi rendahnya tingkat pendidikan, dari sekolah mana dia berasal, atau dari tingkat sosial ekonomi, akan tetapi kita ukur dari kiprah dan peranannya dalam komunitasnya. Pernahkah kita terfikir bahwa, orang orang yang bertugas sebagai cleaning service misalnya, yang selama ini sering kita anggap sebagai “orang orang biasa”, ternyata memiliki peran yang luarbiasa. Tanpa peran mereka, kita tidak akan pernah nyaman menggunakan toilet di tempat kerja kita. Tanpa cleaning service juga, kita akan merasakan lingkungan yang penuh sampah. Atau staf administrasi alias tukang ketik surat surat di kantor kita. Bayangkan tanpa peran mereka, maka kita sebagai pimpinan harus meluangkan banyak waktu untuk mengetik sendiri surat surat. Sebagai mshasiswa, bayangkan pula bagaimana peran orangtua kita dalam membentuk karakter  dan membiayai kuliah kita. Jika logikanya di balik, maka kita juga memiliki peran dalam memberikan kebahagiaan dan kebanggaan bagi orangtua kita.

Kita bisa menarik ribuan atau bahkan jutaan contoh peran positif dalam masyarakat dan organisasi, yang melambangkan bahwa tanpa peran itu, maka ada peran yang hilang dalam masyarakat, ada kepincangan dalam sebuah sistem.

Dengan demikian, sebenarnya tidak ada “orang orang biasa”. Semua kita adalah orang orang luar biasa, dan selalu memiliki peluang untuk menjadi orang yang lebih luar biasa lagi. Ketika kita bisa berperan positif dalam mengembangkan organisasi, maka itu berarti kita telah menjadi orang yang luarbiasa.

Maka, jadilah orang-orang biasa yang luarbiasa………………

CARA KITA BERAGAMA

 

Kata seorang ustad teman saya, ada beberapa kategori orang dalam beragama. Ada yang benar-benar beragama, ada yang tidak beragama, serta ada yang beragama separuh. Saya sendiri bingung dengan klasifikasi semacam itu, terutama istilah yang terakhir, yakni beragama separuh. Apakah ada orang yang agamanya hanya separuh? Meskipun demikian, saya berusaha memahami istilah itu.

Pemaknaan saya terhadap kalimat itu menjadi lebih terang ketika saya bertemu dengan seorang yang berpenampilan sangat agamis, sebut saja si Fulan, dengan jambang dan jenggot yang cukup lebat, lengkap dengan jubah panjanganya, di salah satu lounge di bandar udara Sukarno Hatta. Saya tentu tidak kenal dengan orang tersebut, hanya kebetulan duduk pada posisi berhadapan di ruang tunggu eksekutif tersebut. Kami juga tidak bertegur sapa, hanya saling melirik dan mengamati satu sama lain. Dilihat dari penampilannya, tentulah beliau seoràng yang taat beragama. Akan tetapi yang menjadi pusat perhatian saya adalah cara beliau makan.

Jika kita sering memperhatikan cara makan orang orang Arab, yang kabarnya juga merupakan cara makan nabi Muhammad Rasulullah SAW, adalah dengan cara duduk melingkar bersila di lantai  mengelilingi makanan. Tampaknya pak Fulan juga ingin mengamalkan cara makan seperti itu. Sayangnya keadaan di lounge tidak memungkinkan untuk duduk bersila di lantai menghadàpi makanan, sehingga terpaksa beliau bersila di kursi, dengan cara mengangkat dan melipat kedua kaki di atas kursi. Tentu saja samhil menghadapi makanan di atas meja.

Tampak bahwa cara seperti itu merupakan upaya maksimal pak Fulan tadi untuk mengikuti cara makan orang Arab. Sayangnya, beliau tetap menyeruput makanan menggunakan sendok dan garpu, bukannya menggunakan tangan sebagaimana dicontohkan Rasul. Sepertinya  pak Fulan berusaha mengamhil jalan tengah untuk menyesuaikan situasi dan kondisi.

Jika kita anggap bahwa cara makan seperti itu adalah sunnah dan bukan budaya, maka mestinya jangan tanggung-tanggung menjalankannya. Ini tampaknya agak cocok dengan istilah yang digunakan teman saya tadi, yakni beragama separuh. Mungkin maksud teman saya tadi adalah, bahwa di dunia ini, banyak orang yang menjalankan ajaran agamanya tidak secara kaffah, tidak menyeluruh, atau tidak komprehensif. Agama dijalankan hanya pada bagian-bagian tertentu saja, terutama bagian-bagian yang mudah, enak untuk dijalankan, serta tidak memberatkan. Kurang adanya totalitas dalam beragama.

Menjalankan agama secara kaffah, jangan selalu diartikan sebagai upaya meng-kopi kemudian menerapkan ajaran agama persis seperti pada saat ajaran itu bermula diajarkan oleh penyampainya. Jika kaffah diterjemahkan secara sempit seperti itu, maka kita akan menemukan banyak kesulitan dalam penerapan ajarannya, karena kompleksitas masalah kehidupan yang kita alami sekarang jauh berbeda dengan pada masa awal agama disampaikan.Kata kaffah harus diartikan secara kontekstual, lebih kepada pemaknaan dan substansinya, bukan pada arti harfiahnya belaka. Sebagai contoh, jika Nabi Muhammad Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk bersyiwak (menyikat gigi menggunakan kayu Syiwak), maka makna substansinya adalah bahwa kita dianjurkan untuk membersihkan gigi sebelum shalat. Membersihkan gigi itu bisa menggunakan kayu Syiwak, menggunakan sikat gigi, obat kumur, atau semacamnya.

Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang beragama separuh sebagaimana kata teman saya tadi …………………..