Monthly Archives: Mei 2015

JOKI SUNTIK

 

Pada era tahun 1980 an, pemerintah Indonesia sedang giat-giatnya melakukan pemberantasan dan pencegahan penyakit Folio, Kolera, Dipteri, dan Tetanus. Salah satunya melalui program imunisasi  ke sekolah-sekolah. Ketika itu, secara berkala petugas-petugas dari rumah sakit dan dinas kesehatan, mendatangi  sekolah-sekolah untuk melaksanakan imunisasi. Tentu saja kala itu kesadaran masyarakat untuk mengimunisasi anak-anaknya tidak seperti sekarang, sehingga petugas kesehatan harus bekerjasama dengan pihak sekolah melaksanakan imunisasi dengan cara mendatangi sekolah-sekolah.

Saya dan teman-teman sudah sangat hafal, bahwa jika ada orang-orang berseragam putih-putih dan membawa tas tenteng hitam, itu pertanda akan ada imunisasi, dan itu juga berarti akan banyak tangisan teman-teman yang akan kami dengar. Menangis ? Ya, karena kala itu teknik dan peralatan menyuntiknya tidak sebaik dan selembut sekarang. Jarumnya besar, dan sterilisasinya dibakar, sehingga sakitnya minta ampun ketika disuntikkan oleh petugas. Tapi sakit itupun tentu harus dirasakan perihnya, kadangkala sambil dipegang oleh paling tidak dua orang guru, sehingga meronta sekeras apapun tidak akan berguna. Satu-satunya cara menghindar dari sakitnya jarum suntik itu adalah melarikan diri dari dalam kelas ketika melihat banyak petugas berbaju putih dan menenteng tas hitam datang ke sekolah.

Proses imunisasi yang sakit itu ternyata bisa membekas pada benak setiap orang, bahkan hingga dewasa. Hal ini menyebabkan semacam ketakutan atau fobia terhadap jarum suntik. Kita bisa lihat saat ini, masih banyak orang-orang tertentu yang merasa gelisah atau ketakutan luarbiasa, ketika dihadapkan pada jarum suntik. Bahkan saking takutnya, kadangkala seseorang lebih memilih melakukan perbuatan berat yang lain sebagai kompensasi, asal jangan disuntik. Ada seorang teman yang mengatakan bahwa, dia lebih berani disuruh berperang dengan risiko tertembus peluru tajam, daripada berhadapan dengan jarum suntik. Mungkin karena saat berperang, kita masih punya peluang untuk menghindar, dan diberi kesempatan untuk lari atau bersembunyi. Akan tetapi pada saat berhadapan dengan jarum suntik, kita seolah-olah harus pasrah menerima nasib. Pada beberapa orang tertentu, mati karena berperang atau berjuang, mungkin lebih terasa terhormat daripada ketakutan dan pasrah ketika berhadapan dengan jarum suntik.

Meskipun demikian, ketakutan terhadap jarum suntik ternyata dapat berimplikasi cukup jauh. Sebagai contoh, pada saat akan berangkat umroh, ada teman satu rombongan dengan saya yang takut disuntik. Padahal, pemerintah Arab Saudi, mewajibkan setiap jamaah umroh dari negara manapun, harus divaksinasi terlebih dahulu, khususnya vaksinasi Meningitis. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya pencegahan penyebaran penyakit Meningitis yang sangat membahayakan. Sebagaimana kita ketahui, umroh dan haji melibatkan jutaan masyarakat dari seluruh dunia, termasuk jamaah umroh dan haji dari negara-negara Afrika bagian selatan yang merupakan daerah endemik Meningitis sehingga sering disebut sebagai daerah Sabuk Meningitis. Kewajiban vaksinasi tersebut menyebabkan seluruh jamaah umroh harus membawa surat vaksinasi dari Kantor Pelayanan Kesehatan Pelabuhan, yang nanti harus ditunjukkan pada petugas imigrasi sebagai bukti telah divaksinasi.

Teman saya tadi, sakit takutnya dengan jarum suntik, sampai mencoba untuk mengelabui petugas kesehatan pelabuhan, dengan cara menyuruh orang lain untuk divaksin, tetapi nantinya berkas dan surat keterangan yang dikeluarkan oleh petugas kesehatan, atas nama teman saya tadi. Istilah kerennya semacam joki suntik, yang artinya antara orang yang mengikuti proses dengan yang menerima manfaatnya berbeda. Teman saya tadi tidak sadar bahwa, di jaman digital seperti sekarang, orang dengan mudah bisa melakukan croscek data dan wajah antar dokumen, termasuk dokumen-dokumen keimigrasian. Untungnya, petugas kesehatan pelabuhan cukup jeli, atau memang sudah berpengalaman menangani hal-hal seperti ini, sehingga modusnya dapat digagalkan. Saya hanya membayangkan, jika seandainya teman saya tadi lolos dari upaya menghindari jarum suntik dan mengantongi surat vaksinasi dari kantor kesehatan pelabuhan, akan tetapi bermasalah pada saat pengecekan imigrasi, baik saat keluar dari Indonesia maupun pada saat masuk ke Arab Saudi, maka betapa repotnya kita semua mengurusi hal itu. Yang bersangkutan dapat dituduh telah memalsukan dokumen, dan itu merupakan perbuatan pidana. Sebagai bagian dari grup, tentu saja kita harus ikut bertanggung jawab jika ada masalah yang menimpa anggota satu grup.

Dari kisah di atas, ada dua hal yang ingin saya sampaikan.

Pertama, ternyata pengalaman pahit yang kita alami, akan sangat membekas dan terpatri sebagai bagian yang menakutkan  dalam hidup kita, terutama jika hal itu merupakan tindakan kekerasan, sekalipun kekerasan itu bertujuan baik. Jarum suntik yang pada masa lalu dijadikan sebagai alat untuk mencegah wabah penyakit, akan tetapi penggunaannya menimbulkan trauma, akan menyebabkan ketakutan mendalam terhadap jarum suntik. Pengalaman-pengalaman traumatik dalam hidup kita, akan turut membentuk kepribadian kita di masa selanjutnya. Jika kita mampu mengelola dan mengarahkan pengalaman traumatik itu ke arah yang positif, maka kita akan menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari hanya sekedar menyalahkan masa lalu.

Kedua,  dalam interaksi sosial yang intensif seperti sekarang ini, apa yang kita lakukan, sekalipun dengan proses, tujuan, dan tanggungjawab kita sendiri sebagai pribadi, akan selalu berimbas pada hak dan kepentingan orang lain. Saat kita mencoba memalsukan dokumen keimigrasian sehingga berpotensi menimbulkan masalah pribadi, tetap akan menimbulkan implikasi bagi orang lain dalam satu grup. Saat kita mencoba melanggar aturan lalu lintas misalnya, sekalipun itu adalah perbuatan pribadi, tetapi hal itu akan membahayakan nyawa orang lain. Untuk itulah dibutuhkan kebijaksanaan kita sebelum bertindak. Disitulah guna akal budi  yang telah diberikan Tuhan pada kita, untuk menimbang rasa, apakah perbuatan yang kita lakukan akan berimplikasi pada hak-hak orang lain. Itulah yang membedakan kita dengan hewan……….

TEAPOT DIPLOMACY

 

Saat saya berkunjung ke Amerika Serikat awal tahun 2014 yang lalu, saya berkenalan dengan seorang teman, namanya Charlie. Ia adalah seorang staf lepas yang bekerja di Kementerian Luar Negeri Amerika, Washington DC. Charlie  bekerja sebagai host yang mengatur kunjungan tamu-tamu Kementerian Luarnegeri Amerika Serikat, khususnya melalui program International Visitor Leadership Program (IVLP), yang mana saya diundang melalui program itu. Sebagai penyelenggara program, tentu Charlie berkesempatan pula untuk berkunjung ke negara-negara di luar Amerika Serikat, untuk melakukan sosialisasi sekaligus penjaringan terhadap calon peserta dan penerima award IVLP.

Ada yang menarik tentang Charlie. Ke mana-mana ia selalu membawa teapot, yakni sebuah poci kecil  yang biasa digunakan masyarakat Asia untuk minum teh. Di setiap kesempatan dalam sesi foto, sekalipun foto resmi, Charlie selalu mengeluarkan teapot dan memegangnya ketika di foto. Charlie menyebut aksinya sebagai teapot diplomacy, atau diplomasi melalui teapot. Pada sesi pengambilan foto kami, saya dan teman-teman bersama Charlie di depan gedung Senat dan gedung Pengadilan Amerika di Washington DC, Charlie juga mengeluarkan teapotnya, dan kami dengan sukarela berfoto sambil memegang teapot.

Ada rasa kebanggaan tersendiri ketika berfoto bersama Charlie dengan teapotnya, terutama ketika kita tahu bahwa Charlie telah mengumpulkan ratusan fotonya dengan banyak tokoh di seluruh dunia yang pernah dikunjunginya, tentu saja sambil memegang teapot kesayangannya. Apalagi ia berjanji untuk mengabadikan foto kami peserta IVLP dari Indonesia dalam buku kecil yang akan ia terbitkan tentang teapot diplomacy tersebut.

Ketika saya kembali ke Indonesia beberapa saat setelah itu, saya amati kembali foto kami saat memegang teapot tersebut, saya jadi teringat Charlie. Tampak keikhlasan yang mendalam tergambar dari wajah dan tingkah laku Charlie dalam berkomunikasi.Terbayang lagi ketika  Charlie dengan bangga mengeluarkan teapot miliknya, kemudian dengan sopan ia meminta setiap tamunya berpose sambil memegang benda kesayangannya tersebut, lalu “klik”, fotopun diambil dengan senyuman semua orang. Aneh memang, sebuah teapot bisa membuat kenangan khusus tentang Charlie.

Ternyata, sebuah poci,  benda kecil yang biasa digunakan masyarakat Asia sebagai salah satu peralatan dalam minum teh, dapat dieksplorasi potensinya dengan baik oleh Charlie, sebagai alat diplomasi. Teapot, saya kira, dapat melambangkan keakraban, kebersamaan, kekeluargaan. Bukankah pada sebagian besar kultur di Asia, keakraban muncul saat kita minum teh. Di Jepang misalnya, jamuan minum teh dianggap sebagai jamuan kehormatan bagi tamu yang datang berkunjung, sebagai sarana untuk mendekatkan perasaan atara tuan rumah dan tamu.

Bahkan, teapot sering melambangkan kesucian rasa. Pernahkan kita memperhatikan alat yang digunakan masyarakat di Kalimantan Timur, Selatan dan Tengah ketika menyajikan air zam-zam saat kita berkunjung kepada sanak famili atau kenalan yang baru datang dari tanah suci ?. Sebagian besar menyajikannya dengan teapot yang diisi air zam-zam, beserta cangkir-cangkir kecil untuk menuang air zam-zam tersebut.

Terlepas dari falsafah yang terkandung di balik teapot tersebut, saya kira semua benda dapat kita jadikan sebagai alat diplomasi dan komunikasi. Diplomasi dan komunikasi bertumpu pada kesungguhan dan keikhlasan kita, khususnya untuk menerima orang lain apa adanya, dengan tidak berusaha menggurui dan mengintimidasi. Diplomasi dan komunikasi juga bertopang pada keikhlasan kita untuk mengakui kebenaran atau bahkan kehebatan orang lain. Itulah yang di dalam Islam merupakan unsur penting silaturahim.   Sedangkan teapot, atau apapun benda yang kita bawa sebagai alat, hanya merupakan asesoris yang memudahkan orang lain mengingat kita, karena telah menjadi ikon bagi diri kita. Kita bisa membawa benda apa saja, dan selalu membawanya setiap ada momen penting, terutama saat sesi berfoto, sebagai alat dilpomasi dan komunikasi. Tetapi yang penting adalah, benda yang kita bawa itu telah mampu merepresentasikan keikhlasan jiwa  dan ketulusan rasa kita dalam berkomunikasi. Mungkin kita bisa menciptakan batik diplomacy, lawung diplomacy, rotan diplomacy, atau bahkan akik diplomacy, selama kita konsisten menggunakannya sebagai ikon diri kita, dan kita faham betul bahwa ikon itu telah mewakili ketulusan kita dalam berkomunikasi dengan orang lain ……………….

KETIKA SEMUA MENJADI DA’I

 

Sejak sekitar setahun yang  lalu, ada yang beda di Universitas Muhammadiyah Palangkaraya, khususnya sehabis shalat Ashar, yakni adanya kegiatan kultum yang dilakukan secara bergiliran oleh seluruh dosen dan karyawan Universitas Muhammadiyah Palangkaraya. Dari Rektor hingga staf tata usaha, semuanya secara periodik mendapat giiran untuk memberikan informasi sebagai pencerahan bagi yang lain. Para pendengarnya tentu saja semua dosen dan karyawan yang ikut melaksanakan shalat Ashar berjamaah setiap hari, termasuk mahasiswa. Salah satu tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melatih dosen dan karyawan  agar terbiasa berbicara di mimbar masjid, menjadi seorang penceramah, sesederhana apapun konsep dan materi yang disampaikan. Hal ini sesuai dengan sabda rasulullah Muhammad SAW, “ sampaikan olehmu walaupun hanya satu ayat”.

Menariknya, ternyata semua orang, apapun jabatan, pangkat, atau latar belakang pendidikannya, bisa menyampaikan kultum dengan baik, tentu dengan berbagai tema, judul, atau bahkan  gaya bahasa yang berbeda-beda. Ada yang menyampaikan kultum bertajuk TIDUR, BANTAL, BERSIN, dan sebagainya. Tentu saja tema dan judul itu disesuaikan dengan bidang kajian masing-masing dan dikaitkan pula dengan pandangan Islam. Misalnya kajian tentang BERSIN ternyata dapat dikupas secara menarik oleh teman-teman dari Fakultas Ilmu Kesehatan. Demikian pula halnya dengan kultum bertajuk TIDUR, ternyata cada kesamaan pandangan antara Islam dan ilmu kesehatan tentang teknik dan cara tidur yang baik. Dengan demikian, upaya Universitas Muhammadiyah Palangkaraya untuk membuat giliran kultum bagi semua dosen dan karyawan, harus dipandang pula sebagai upaya untuk mengaitkan  antara ilmu agama dengan masalah-masalah soaial kemasyarakatan yang umum terjadi di masyarakat.

Menariknya lagi, karena masing-masing dosen dan karyawan menyampaikan kultum berdasarkan latar belakang atau bidang keahliannya, sering kali  waktunya  menjadi molor. Sehingga kultum tidak lagi dapat dimaknai sebagai “kuliah tujuh menit” sebagaimana umumnya yang difahami masyarakat, akan tetapi kultum telah berubah menjadi “kuliah tujuh belas menit”, kuliah duapuluh tujuh menit”, atau yang paling lama adalah “kuliah terserah antum” yang berarti waktunya terserah anda. Mungkin para dosen sudah mulai cukup familiar dengan mimbar masjid, sehingga memberi kultum sudah seperti memberi kuliah di kelas.

Terlepas dari itu semua, satu hal yang dapat saya simpulkan adalah bahwa, semua kita, ternyata bisa menjadi Da’i. Dari kegiatan seperti itu terbukti bahwa, menjadi Da’i bukan hanya monopoli orang-orang yang berlatar belakang pendidikan agama Islam, tetapi juga mereka yang berlatar belakang pendidikan umum non agama.

Persepsi selama ini bahwa saat seseorang berceramah atau memberi kultum harus menyisipkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan bacaan yang fasih, ternyata tidak sepenuhnya benar. Sekalipun keterampilan membaca ayat Al-Qur’an secara fasih itu memang penting, akan tetapi yang lebih penting lagi adalah kemampuan kita memaknai ayat-ayat Tuhan sehingga mampu menjawab masalah dan tantangan kehidupan yang kita alami. Bukankah selama ini, salah satu kelemahan kita dalam beragama adalah kurangnya kemampuan menafsirkan ayat-ayat Tuhan secara kontekstual, karena kita selalu terjebak pada tafsiran yang tekstual.

Maka, pada dasarnya kita semua adalah Da’i, yakni para penyampai kebenaran, para pendakwah yang mengajak kepada jalan Tuhan, bukan hanya di atas mimbar masjid saat menyampaikan kultum, tetapi bahkan di depan kelas pada saat kita membagi ilmu dan memberikan contoh dan keteladanan yang baik kepada mahasiswa. Mari kita niatkan, semua aktivitas kita sehari-hari, sebagai bagian dari upaya kita menyampaikan kebenaran, sehingga menjadi ibadah sebagai wujud pengabdian kita kepada Tuhan

BERFIKIR DAN BERTINDAK OUT OF THE BOX

 

Saya memiliki seorang teman, sebut saja Fulan, yang sepertinya memiliki idealisme sangat tinggi. Tentu ini merupakan fenomena langka di jaman sekarang, karena tokh hanya sedikit orang yang idealismenya tidak tergerus keadaan. Meskipun idealis, teman saya ini terjebak pada pola fikir formal. Segala sesuatu harus mengacu pada aturan yang ada. Rujukan dan referensinya juga cukup banyak, saking banyaknya sehingga kadangkala si Fulan sudah tidak sadar bahwa referensi yang dijadikan acuan tersebut sudah tidak berlaku lagi. Contohnya pada saat kita berbicara tentang tata cara pemilihan kepala daerah, si Fulan masih beranggapan bahwa pemilihan kepala daerah telah diubah menjadi pemilihan tidak langsung atau melalui DPRD. Padahal revisi undang undang tentang pilkada itu telah direvisi lagi melalui PERPU dan dikembalikan ke pemilihan langsung.

Fenomena seperti si Fulan tadi, memang sering kita temui dalam masyarakat kita. Ada orang orang yang berfikirnya terlalu formal sehingga mereka terjebak pada rutinitas. Orang orang seperti ini  ibarat sedang hidup mengitari lingkaran yang sama, sehingga sebenarnya ia tidak beranjak ke manapun. Ada kata bijak yang menyatakan bahwa jika kita melakukan hal yang sama setiap hari, maka kita hanya akan  menghasilkan hal yang sama, pada pusaran, bahkan titik yang sama.

Untuk bisa maju, kita harus belajar melakukan sesuatu di luar kebiasaan, belajar melakukan sesuatu di luar mainstream. Belajar berfikir dan berbuat out of the box. Berfikir dan bertindak membuat kita dapat melompat jauh ke depan. Dalam kata lain, berfikir dan bertindak di luar mainstream adalah upaya kita untuk tampil beda dalam artian positif, meskipun kadang hal itu menjadikan kita tampak aneh. Contohnya ketika saya mencoba merubah pola kegiatan KKN atau Kuliah Kerja Nyata Universitas Muhammadiyah Palangkaraya sekitar tahun 2007 yang lalu. Saat itu, saya coba tawarkan perubahan konsep KKN, dari KKN di pedesaan, menjadi KKN yang dilaksanakan dengan cara menata dan membangun amal usaha Muhammadiyah. Hal itu saya usulkan karena saya melihat bahwa kegiatan KKN mahasiswa selama ini telah terjebak pada rutinitas. Akibatnya adalah, mahasiswa yang seharusnya menjadi motivator pembangunan, telah berubah menjadi tenaga kerja sukarela, sementara masyarakat cenderung pasif dan menjadi penonton. Dengan kondisi demikian, tujuan KKN tentu tidak tercapai secara optimal, Saat saya usulkan ide untuk menghapus KKN ke pedesaan, banyak sekali kritikan pedas yang disampaikan terhadap pemikiran itu, karena dianggap telah melenceng dari konsep pengabdian pada masyarakat. Tetapi bagi saya, menata amal usaha Muhammadiyah adalah juga mengabdi pada masyarakat, karena amal usaha Muhammadiyah adalah milik masyarakat. Pada saat itu, saya mencoba berfikir di luar mainstream, sehingga tampak aneh. Tetapi waktu telah membuktikan bahwa, pola KKN dengan menata amal usaha Muhammadiyah telah menunjukkan manfaat luarbiasa, antara lain dengan berdirinya banyak amal usaha Muhammadiyah, sehingga banyak masyarakat terlayani pendidikannya.

Jadi, mari kita belajar berfikir dan bertindak out of the box, dengan catatan dapat memberi kemanfaatan bagi semua……