Monthly Archives: Juni 2015

MULAI DARI KEBAIKAN KECIL

 

Pernahkah kita berfikir bahwa setiap perbuatan baik kita, apapun bentuknya, dan seberapapun besarnya, selalu memiliki nilai ibadah jika kita lakukan secara ikhlas ? Pernahkah kita berfikir bahwa, setiap pekerjaan yang kita lakukan juga bernilai ibadah ? Bukankah  Allah tidak membeda-bedakan perbuatan kita berdasarkan besar kecilnya perbuatan yang kita lakukan, akan tetapi Allah menilai perbuatan kita berdasarkan keikhlasan dan nilai efek dari perbuatan itu. Perbuatan remeh yang selama ini luput dari perhatian kita, tetapi memiliki efek sosial yang besar, bisa jadi merupakan ibadah yang nilainya tinggi di hadapan Allah, yang suatu saat akan diganjar Allah dalam banyak bentuk.

Ketika saya masih remaja, saya termasuk orang yang paling suka membersihkan dan menata masjid, tempat di mana saya sering ikut shalat berjamaah. Entah kenapa,  secara spontan saya berusaha menyapu, lalu kemudian menata dan membentangkan kain sajadah putih panjang untuk shalat, tepat beberapa saat sebelum shalat Magrib dimulai.  Sekalipun tidak rutin saya lakukan, akan tetapi spontanitas itu selalu muncul begitu saja, ketika saya melihat bahwa masjid tempat kami shalat belum siap. Begitu pula kebiasaan mematikan listrik dan kipas angin di masjid, dan hal itu menjadi kebiasaan sampai sekarang.

Mungkin saat itu, banyak yang menganggap perbuatan itu merupakan perbuatan remeh, karena tokh jika tidak dibersihkan atau ditata, tidak ada orang yang merasa terganggu shalatnya. Anehnya, saya sering sekali ditraktir makan bakso atau ke warung teh dekat masjid kami oleh seorang jamaah, ketika selesai shalat Magrib, tepat ketika sebelum magrib saya membersihkan atau membentangkan sajadah panjang. Apakah ini suatu kebetulan, ataukah karena memang beliau sering memperhatikan perbuatan saya, wallahu’alam. Pada masa kini, saya melihat ada staf saya yang rajin mengurus masjid yang terletak di lingkungan kantor, yang mungkin karena keikhlasannya, ia mendapat rezeki diberangkatkan umroh atau biaya kantor. Tanpa bermaksud untuk takabur atau menyombongkan diri, bisa jadi perbuatan perbuatan kecil yang selama ini kita anggap remeh, akan dinilai Allah dengan ganjaran yang besar dalam berbagai bentuk, asalkan kita lakukan secara ikhlas, tanpa motivasi untuk meminta ganjaran berlipat ganda.

Keikhlasan seharusnya merupakan dasar bagi semua tindakan kita. Dalam sebuah dari Bukhari dan Muslim, pernah diceritakan bahwa ketika turun ayat sedekah, orang orang Islam berlomba-lomba mengangkut barang-barang di atas punggung mereka untuk mendapatkan upah dari jasa mengangkut itu, kemudian hasilnya disedekahkan. Kemudian datanglah seseorang lalu bersedekah dengan sesuatu yang banyak, orang-orang mencela, ‘Ah, ia hanya pamer saja’. Kemudian datang lagi orang lain lalu bersedekah dengan satu sha (sekitar 2,7 kg) kurma, orang-orang mencela, ‘Sebenarnya Allah tidak memerlukan makanan satu sha ini’. Berdasarkan kejadian itu, maka turunlah ayat dalam surah At-Taubah 79 :  “(Orang-orang munafik itu) yaitu orang orang yang mencela orang-orang Mukmin yang memberi sedekah dengan suka rela dan (mencela) orang orang yang memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang orang (munafik) itu menghina mereka, Allah akan membalas penghinaan mereka, dan untuk mereka azab yang pedih. Melalui ayat ini, Allah mencela anggapan orang orang munafik bahwa sedekah yang sedikit tidak ada artinya. Bagi Allah, kebaikan itu tidak dinilai dari segi kualitas, tetapi kuantitas.

Dalam sebuah riwayat pernah juga dikisahkan tentang seorang  seorang pelacur yang diampuni dosa-dosanya oleh Allah, hanya karena ia memberikan air minum dengan menggunakan sepatunya, untuk seekor anjing yang kehausan dan berputar-putar di sekitar sumur. Ini berarti bahwa, dosa dosa besar bahkan dapat terhapus hanya oleh suatu perbuatan kecil dan remeh tetapi memiliki efek yang sangat besar. Ini juga berarti bahwa perbuatan remeh sesederhana apapun, akan tetap memiliki nilai yang tinggi di hadapan Allah, selama perbuatan itu kita lakukan dengan ikhlas.

Dengan demikian, keterbatasan yang kita miliki hendaknya jangan menghalangi kita untuk berbuat baik, karena lading untuk beramal terbuka sangat lebar. Allah maha adil, dan telah menyiapkan lading untuk berbuat baik bagi semua golongan. Jika yang kaya diwajibkan Allah untuk berbuat baik melalui zakat, infaq dan sedekah harta, atau berangkat haji dan umroh karena memiliki kemampuan ekonomi, maka yang memiliki keterbatasan ekonomi diberikan Allah kesempatan untuk berbuat baik dengan cara lain tetapi memiliki nilai ibadah yang sama atau bahkan lebih besar. Rasulullah  sendiri pernah didatangi oleh orang orang fakir Muhajirin, yang mengadu karena tidak memiliki kelebihan harta sehingga tidak mendapat kesempatan untuk bersedekah. Rasulullah kemudian menjawab :  “Bukankah Allah SWT telah menjadikan untukmu sesuatu yang dapat kamu gunakan untuk bersedekah. Sungguh dalam setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir itu sedekah, setiap tahmid itu sedekah, setiap tahlil itu sedekah, memerintahkan kebaikan itu sedekah, mencegah kemungkaran itu sedekah.”

Subhanallah, mari kita mulai niatkan secara ikhlas semua perbuatan kita sebagai wujud pengabdian kita kepada Allah, di manapun dan kapanpun, sehingga semua perbuatan kita akan bernilai ibadah, sekalipun hanya sebuah kebaikan kecil. Insya Allah kebaikan kecil itu akan terus membesar seperti bola salju menjadi kebaikan kebaikan besar yang bermanfaat untuk semua. Amin.

PANTASKAH BERHARAP PAHALA ?

 

Tulisan ini terinspirasi oleh sebuah lagu yang saya download dari Youtube, lagu yang dinyanyikan oleh Rafli, penyanyi asal Aceh yang sempat populer pasca tragedi tsunami. Dalam salah satu baitnya, Rafli berujar, “Bila sujudku padaMu karena takut neraka, bakar aku dengan apinya. Bila sujudku padaMu karena damba surga, tutup bagiku surga itu. Namun bila sujudku demi Kau semata,  jangan palingkan wajahMu, aku rindu menatap keindahanMu”.

Lagu di atas menggambarkan motivasi ibadah kita. Motivasi adalah faktor pendorong yang mendasari tindakan kita dalam mencapai tujuan. Demikian pula halnya dalam beribadah.

Pada kenyataannya, sebagian besar masyarakat kita masih menjadikan imbalan pahala sebagai faktor pendorong dalam beribadah. Sangat sering kita mendengar dalam banyak ceramah maupun tulisan-tulisan tentang agama Islam, bahwa jika mengerjakan ibadah X maka pahalanya sekian, atau jika mengjalankan ibadah Y, maka pahalanya sekian kali lipat, dan seterusnya. Semua pernyataan itu tentu ada dasar hukumnya. Banyak sekali hadits yang menyatakan tentang besarnya imbalan pahala yang kita dapatkan jika kita mengerjakan suatu ibadah. Pertanyaan mendasar yang harus kita tanyakan pada diri sendiri adalah, apakah pencarian pahala itu yang menjadi tujuan dari ibadah kita ? Bukankah Allah SWT berfirman dalam surat Ad-Dzariyat 56 : “Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku”.

Kata ibadah berasal dari bahasa Arab, ‘abdi atau ta’abud yang secara etimologi berarti tunduk, patuh, merendahkan diri, dan hina.  Menurut Yusuf Qardhawy dalam Al-‘Ibadah fie Al-Islam, kata ‘abdi atau ta’abud lebih dimaknai sebagai ketundukan dan kepatuhan serta merendahkan diri di hadapan Allah SWT. Sedangkan Sayyid Quthb dalam Tafsir fi Dzilal Al-Qur’an menyatakan bahwa  ibadah merupakan al-wadhifah al-ilahiyyah, tugas yang diembankan Allah kepada manusia sedemikian rupa sehingga ibadah harus dimaknai sebagai perwujudan fungsi penciptaan manusia. Dengan kata lain, dengan melakukan ibadah, maka manusia telah memfungsikan dirinya sesuai dengan tujuan penciptaannya. Analoginya, sepeda motor diciptakan sebagai alat transportasi. Jika motivasi kita membeli sepeda motor hanya untuk dipajang di depan rumah, maka pembelian itu telah menyebabkan disfungsi dari tujuan penciptaan sepeda motor tersebut.

Sebagai unsur pendorong dalam ibadah, motivasi akan memberikan warna tersendiri dalam perilaku ibadah kita, karena setiap individu mungkin didorong oleh motivasi yang berbeda beda. Sebagian ahli agama membedakan motivasi ibadah ke dalam 5 tingkatan :

Pertama, tingkatan al-mukrohin. Motivasi ini semata-mata didasari pada rasa terpaksa, sebagai wujud dari kewajiban, yang mana ibadah dilaksanakan hanya sekedar menggugurkan kewajiban. Itulah sebabnya motivasi ibadah jenis ini berada dalam tingkatan yang paling rendah. Meskipun demikian, tentu ibadah glongan ini sudah lebih baik daripada mereka yang tidak menunaikan ibadah.

Kedua, tingkatan al-ummal. Motivasi ini didasari pada keinginan untuk mendapatkan penghargaan, status sosial,  atau imbalan tertentu. Rasulullah menggambarkan kelompok ini dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim, bahwa nanti di hari kiamat akan ada sekelompok orang yang datang menghadap Allah dengan banyak kebaikan, tetapi justeru dimasukkan Allah ke dalam neraka. Mereka adalah para   syahid yang gugur di medan perang tetapi motivasinya untuk memperoleh status pahlawan, para cendekiawan dan orang orang berilmu yang motivasinya dalam mengajarkan ilmunya agar disebut ulama, dan orang-orang kaya yang suka bersedekah tetapi motivasinya agar disebut dermawan.

Ketiga, adalah tingkatan at-tujjar. Motivasi ibadah kelompok ini didasari pada keinginan untuk memperoleh imbalan lebih besar. Artinya, ibadah yang dilakukannya didasari pada keinginan untuk memperoleh imbalan yang lebih besar dari Allah, seperti cara fikir orang berdagang. Jika ia bersedekah, maka ia selalu menghitung dan membayangkan bahwa Allah akan membalasnya dengan pahala berlipat ganda, atau mungkin memberikan rizki yang lebih banyak kepadanya. Orang-orang seperti ini termasuk orang-orang yang mencoba berdagang dan berhitung dengan Allah.

Keempat, tingkatan al-muthi’in. Motivasi ibadah kelompok ini semata-mata karena rasa tunduk kepada perintah Allah, bukan karena terpaksa untuk menggugurkan kewajiban, bukan pula dimotivasi untuk memperoleh status dan pujian dari orang lain, serta tidak karena mengharapkan imbalan pahala. Ibadah kelompok ini, dimotivasi oleh rasa pengabdian yang tulus sebagai hamba Allah. Kelompok ini dapat digambarkan sebagai kelompok yang menyatakan ikrar sebagaimana dimaksud surah Al-An’am ayat 162 dan sering kita ucapkan dalam doa iftitah ketika shalat, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan sarwa sekalian alam”.

Kelima, yang merupakan kelompok paling tinggi, adalah tingkatan al-mutaladzidzin. Ibadah pada kelompok ini, dimaknai sebagai sebuah kebutuhan sehingga ia merasa ketagihan. Ada kerinduan yang mendalam untuk melakukan pengabdian kepada Tuhan, ada kegelisahan tiada tara jika ia tidak melakukan ibadah. Ibadah dilakukan karena ingin mendapatkan kenikmatan hakiki berinteraksi dengan Allah.  Ambil contoh dalam tingkatan ini adalah sahabat Rasulullah Abdurrahman bin ‘Auf, yang merupakan salah satu sahabat yang mendapat jaminan masuk surga, yang keranjingan tiada henti menginfaqkan hartanya untuk mereka yang membutuhkan. Rasulullah, yang dijamin oleh Allah untuk masuk surga, terus melakukan shalat sampai akhir hayatnya, bahkan ketika kaki beliau bengkak sehingga sulit duduk untuk bertahiyat.

Dari beberapa tingkatan motivasi ibadah di atas, kita dapat menimbang, di manakah posisi kita masing-masing. Masihkah ibadah yang kita lakukan sehari-hari : shalat, puasa, bahkan bersedekah, didasari pada keinginan mendapatkan pahala dan imbalan dari Allah ? Tidak kah cukup nikmat yang selama ini Allah kucurkan kepada kita ? Allah telah memberi kita kehidupan, memberi kita nafas ratusan ribu kali sehari semalam, memberikan kita rizki. Allah berfirman dalam surah Ar-Rahman, “Nikmat manakah lagi yang engkau hendak dustakan”? Bagaimana cara kita membalas nikmat itu ? Lalu, pantaskah lagi kita mengharap pahala dari ibadah yang kita lakukan ?

TAMPAK CERDAS VS TAMPAK BODOH

 

Jika kita  bepergian ke luar negeri, maka hal lazim yang kita temui adalah pemeriksaan imigrasi, baik pada saat kita ke luar ataupun masuk dalam sebuah negara. Pemeriksaan tersebut umumnya berupa pengecekan paspor, visa, dan dokumen lain yang dibutuhkan. Pada beberapa negara misalnya, mereka mewajibkan adanya dokumen bahwa kita sudah divaksin terhadap beberapa jenis virus atau penyakit tertentu seperti Meningitis. Sementara pada beberapa negara lain, menerapkan sistem visa on arrival, artinya visanya kita urus pada saat kedatangan di tempat tujuan. Pada beberapa negara, juga menerapkan kebijakan bebas visa. Dengan berbedanya kebijakan setiap negara, maka tingkat kerumitan pemeriksaan imigrasi setiap negara juga berbeda beda.

Sebagai orang yang beberapa kali bepergian ke luar negeri, saya merasa bahwa pemeriksaan imigrasi di beberapa negara sangatlah rumit. Sebagai contoh adalah pemeriksaan imigrasi di Israel. Ketika pada bulan Mei-Juni 2015, saya bersama rombongan, masuk ke Israel melalui Allenby Brigde, yang oleh orang Yordania disebut sebagai jembatan King Husein, yang membentang di sungai Yordan dan memisahkan wilayah Israel dan Yordania. Jembatan ini menjadi semacam border antara Yordania dan Israel. Pada beberapa negara umumnya, pemeriksaan imigrasi tidak akan memakan waktu lama. Dengan sistem yang berbasis teknologi informasi yang menghubungkan data perorangan ke seluruh dunia, seharusnya pemeriksaan imigrasi bisa berjalan cepat. Umumnya pada saat pemeriksaan paspor dan visa, kita cukup menyerahkan dokumen dokumen tersebut di loket imigrasi, dicocokkan wajahnya oleh petugas, kode atau barcode yang ada pada paspor dan visanya terbaca oleh sistem komputer, maka selesailah pemeriksaan imigrasi. Tetapi hal itu tidak terjadi pada pemeriksaan imigrasi di Israel. Pemeriksaan imigrasi di Israel terdiri dari 3 lapis. Pada lapis pertama, pemeriksaan dilakukan di saat akan masuk border, yang kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan barang bawaan. Sedangkan pemeriksaan yang kedua  dan ketiga dilakukan di dalam border dan pada saat akan keluar dari border.  Bisa dibayangkan tingkat kerumitan pemeriksaan yang kita hadapi, karena pada umumnya, pemeriksaan imigrasi hanya 1 atau 2 lapis. Uniknya lagi di Israel, petugas imigrasi akan menanyakan banyak hal tentang diri kita. Dari menanyakan nama, nama orangtua, nama kakek, nomor telepon, sampai dengan alamat email. Bisa kita bayangkan jika ada anggota rombongan yang jarang atau tidak pernah menggunakan email, maka akan sangat kesulitan menghadapi petugas imigrasi. Dengan banyaknya pertanyaan, maka pemeriksaan di imigrasi Israel makan waktu relatif lama dibandingkan pemeriksaan di negara lain.

Meskipun demikian, orang Indonesia selalu memiliki cara jitu untuk mengatasi kerumitan pemeriksaan imigrasi Israel. Caranya ? Hanya dengan berpura pura bodoh dan tidak faham tentang apa yang ditanyakan.  Pada saat ada pertanyaan, kita cukup memberi kode dengan menyilangkan kedua tangan yang melambangkan bahwa kita tidak faham pertanyaanya, tentu saja dibarengi dengan mimik wajah yang memelas dan tampak bodoh tadi. Bahkan saya lihat, sebagian besar orang orang yang tidak mengerti bahasa Inggris, melalui pemeriksaan lebih  cepat dengan trik itu. Tampaknya para petugas imigrasi tidak mau berlama lama bertanya, karena tokh antara pertanyaan dengan jawabannya tidak akan nyambung.

Dari catatan ini, saya jadi ingat pesan pesan saya ke mahasiswa calon guru yang sering saya ajaf. Saya sering katakan pada mereka bahwa, sebagai guru, pada saat mengajar di depan kelas, kita harus tampak cerdas dan tidak tampak bodoh untuk meningkatkan kewibawaan kiya sebagai guru. Akan tetapi, setelah saya mengalami pemeriksaan di imigrsi Israel, maka saya akan katakan ke mahasiswa saya, bahwa pada saat pemeriksaan di imigrasi Israel, kita harus menjadi tampak bodoh dan jangan tampak cerdas ………..

MENANGKAP TIKUS, LUMBUNG DIBAKAR

 

Kalimat di atas adalah sebuah peribahasa, yang digunakan untuk menggambarkan cara kita menyelesaikan suatu masalah. Kadang dalam menyelesaikan masalah, kita terjebak pada penyelesaian yang tidak substansial. Seringkali masalah yang kita hadapi, diselesaikan di tingkat permukaannya, bukan pada akar masalahnya. Ketika kita akan menangkap dan membunuh seekor tikus yang bersembunyi dan memakan padi di lumbung, maka lumbungnya dibakar.

Banyak masalah yang dihadapi oleh bangsa ini diselesaikan dengan cara itu. Ambil contoh penyelesaian masalah yang dihadapi oleh PSSI. Kita akui bahwa prestasi sepakbola kita belum bisa terdongkrak, bahkan hanya di tingkat ASEAN sekalipun.   Akar masalahnya diduga pada manajemen PSSI yang kurang transparan dan berimbas pada sistem dan pelaksanaan kompetisi, sehingga penjaringan bibit bibit baru pemain melalui liga dan klub juga terhambat. Memang tampak sulit untuk mencari 11 orang Indonesia terbaik dari sekitar 250 juta penduduk. Mestinya dengan banyaknya jumlah penduduk Indonesia, tidaklah sulit mencari 11 pemain sepakbola tersebut, jika sistemnyan dikelola dengan baik. Itulah salah satu alasan pemerintahan di bawah presiden Joko Widodo, melalui menteri Pemuda dan Olahraga, membekukan kepengurusan PSSI pada Mei 2015. Oleh banyak fihak, pembekuan ini diterjemahkan sebagai pembubaran PSSI. Pembekuan kepengurusan PSSI mestinya tidak terjadi, jika kita berfikir bahwa akar masalahnya bukan semata mata masalah manajemen kompetisi dan transparansi PSSI, tetapi lebih pada sumberdaya pemain. Postur tubuh pemain kita yang relatif lebih kecil menyebabkan langkah kakinya relatif lebih pendek terutama saat berlari, padahal speed sangat dibutuhkan dalam bermain sepakbola. Kecerdasan pemain kita juga kurang, sehingga ia tidak mampu membaca dan memprediksi kea rah mana bola akan digiring kawan atau lawan.

Sebenarnya beberapa kekurangan ini dapat diatasi oleh daya juang yang tinggi. Kita bisa lihat bagaimana kinerja para pemain Korea Selatan atau Jepang yang posturnya relatif tidak jauh berbeda dengan para pemain kita. Dengan semangat juang yang sangat tinggi, maka kelemahan postur bisa diimbangi. Semangat juang inilah yang kurang pada para pemain kita. Semangat juang terkait dengan motivasi, dan motivasi dipengaruhi oleh sistem insentif dan penghargaan, dalam banyak bentuk. Masyarakat dan pemerintah kita belum terbiasa memberikan penghargaan, khususnya dalam jangka panjang, terhadap para atlet kita yang berprestasi. Kita sudah sama sama tahu bagaimana nasib para olahragawan kita yang memiliki prestasi internasional gemilang pada saat jayanya, kemudian terpuruk serta terlupakan pada hari tuanya. Itulah akar masalahnya. Bisakah para olahragawan kita memiliki motivasi tinggi karena ada jaminan bagi mereka dalam jangka panjang, sehingga olahraga bisa mereka jadikan sebagai profesi. Dengan cara itu, kita telah belajar menyelesaikan masalah dari akarnya, bukan membuat huru hara dipermukaannya………