TUGAS MATA KULIAH STATISTIKA PRODI BK

TUGAS MATA KULIAH STATISTIKA PRODI PGSD

1. Ada dugaan yang menyatakan bahwa rata-rata minimal kekuatan hidup lampu merk APA adalah 48 jam. Untuk membuktikan dugaan tersebut, diambil sampel sebanyak 400 biji lampu merk APA, sehingga dari sampel tersebut diperoleh rata-rata kekuatan hidup lampu tersebut adalah 45 jam, dengan simpangan baku sebesar 0,25 jam. Ujilah kebenaran dugaan tersebut pada taraf sginifikansi 5%

 

2. Suatu penelitian dilakukan untuk menduga rata-rata kalori yang dikonsumsi warga kota Sampit setiap harinya. Untuk itu dilakukan penelitian sampel dengan data hasil penelitian yang menggambarkan kalori yang dikonsumsi warga Sampit (dalam ribuan kalori) sebagai berikut :

1,7 1,8 2,1 1,9 2,0 1,5 1,6 1,7 1,8 1,8 1,6 1,4 1,6 1,6 1,7 1,7

1,4 1,8 1,4 1,6 1,8 1,5 1,6 1,7 1,3 1,5 1,4 1,7 1,6 1,7 1,8 1,8

2,0 2,1 2,0 1,9 1,8

Ujilah kebenaran dugaan yang menyatakan bahwa rata-rata kalori yang dikonsumsi warga kota Sampit setiap harinya paling banyak 1700 kalori. Gunakan taraf 5%.

TUGAS MATA KULIAH STATISTIKA PGSD

TUGAS MATA KULIAH STATISTIKA PRODI PGSD

1. Ada dugaan yang menyatakan bahwa rata-rata minimal kekuatan hidup lampu merk APA adalah 50 jam. Untuk membuktikan dugaan tersebut, diambil sampel sebanyak 500 biji lampu merk APA, sehingga dari sampel tersebut diperoleh rata-rata kekuatan hidup lampu tersebut adalah 48 jam, dengan simpangan baku sebesar 0,25 jam. Ujilah kebenaran dugaan tersebut pada taraf sginifikansi 5%

2. Suatu penelitian dilakukan untuk menduga rata-rata kalori yang dikonsumsi warga kota Sampit setiap harinya. Untuk itu dilakukan penelitian sampel dengan data hasil penelitian yang menggambarkan kalori yang dikonsumsi warga Sampit (dalam ribuan kalori) sebagai berikut :

1,6 1,8 2,1 1,9 2,0 1,5 1,6 1,7 1,8 1,9 1,6 1,4 1,6 1,6 1,7 1,8

1,4 1,8 1,4 1,6 1,8 1,5 1,6 1,7 1,3 1,5 1,4 1,7 1,6 1,7 1,8 1,9

2,0 2,1 2,0 1,9 1,8

Ujilah kebenaran dugaan yang menyatakan bahwa rata-rata kalori yang dikonsumsi warga kota Sampit setiap harinya paling banyak 1600 kalori. Gunakan taraf 5%.

 

SOAL SUSULAN MK METODOLOGI PENELITIAN KUANTITATIFa.

1. Apakah yang dimaksud dengan fenomena? Mengapa sebuah penelitian dimulai dari mengamati fenomena?

2. Apakah yang dimaksud dengan interest value dalam penelitian. Mengapa faktor ini penting sebagai dasar menentukan masalah penelitian?

3. Identifikasi jenis variabel berikut berdasarkan skala NOIR serta berikan alasannya.

a. Jenjang pendidikan terakhir

b. Hasil belajar ekonomi

c. Metode pembelajaran

 

4. Jelaskan 3 perbedaan mendasar antara penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif.

5. Jika seandainya populasi penelitian terdiri dari beberapa kelas, dan peneliti bermaksud mengambil sebagian dari masing-masing anggota populasi tersebut, maka teknik sampling apakah yang tepat untuk digunakan? Bderikan alasannya.

 

6. Jika seandainya populasi penelitian adalah sekelompok masyarakat luas tanpa adanya strata tertentu sebagai pembeda karakteristiknya, sedangkan peneliti bermaksud mengambil sebagian dari populasi tersebut (tanpa melihat perbedaan karakteristik dalam populasi), maka teknik sampling apakah yang tepat untuk digunkana? Berikan alasannya.

JAWABAN DIKIRIM VIA EMAIL : bulkaniardi@umpalangkaraya.ac.id

 

 

La Rancon de la Gloire

 

Ketika saya dalam perjalanan dari Kairo ke Bangkok pada beberapa waktu lalu menggunakan maskapai Egypt Air, iseng-iseng saya membuka tontonan film yang tersedia di kursi kabin. Salah satu film yang menarik bagi saya, berjudul La Rancon de la Gloire besutan penulis sekaligus sutradara terkenal Prancis,   Xavier Beauvois. Film bergenre drama-komedi ini ternyata sempat menjadi menarik banyak perhatian dalam ajang Venice International Film Festival.

Saya sebut menarik, karena sangat relevan dengan konsep yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda bahwa ketika seseorang Muslim meninggal dunia, maka putuslah seluruh amalnya kecuali 3 perkara, yakni ilmu yang bermanfaat, anak yang saleh dan mendoakan orangtuanya, dan ilmu yang bermanfaat. Pesan penting universal dari hadits ini sebenarnya adalah bahwa kematian bukanlah batas bagi kita untuk memberikan kontribusi pada masyarakat. Jika anda meninggalkan ilmu yang bermanfaat, maka sebenarnya anda belum mati, karena ilmu itu dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan untuk kesejahtraan masyarakat. Jika anda meninggalkan seorang anak yang shaleh, maka anak anda yang shaleh juga akan berguna bagi masyarakat, atau minimal tidak menjadi beban sosial dalam komunitasnya. Dan jika anda meninggalkan amal jariah, dalam bentuk bangunan sekolah misalnya, maka sudah barang tentu bangunan itu akan sangat bermanfaat untuk memajukan pendidikan masyarakat. Dengan demikian, ukuran keberhasilan hidup kita, bahkan jika dapat disebut sebagai ukuran “keberhasilan” dari kematian kita, adalah seberapa banyak kontribusi kita bagi masyarakat. Bukankah Rasulallah Muhammad SAW pernah mengatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah orang yang memberi manfaat bagi komunitasnya. Orang orang yang baik bahkan akan tetap bermanfaat sampai ia telah wafat.
Jika anda pernah menyaksikan film yang berjudul La Rancon de la Gloire, yang dalam bahasa Inggris diartikan sebagai price of fame, maka manfaat tentang orang yang telah mati itu dapat tergambar  cukup baik. Dalam film yang diangkat dari kisah nyata tersebut, digambarkan tentang 2 orang teman lama yang bertempat tinggal di Swiss, Eddy dan Osman yang baru bertemu kembali setelah Eddy dipenjara karena kasus perampokan. Eddy yang merupakan imigran asal Belgia, dan Osman yang merupakan imigran Aljajair. Eddy berupaya menolong keluarga Osman, termasuk anak Osman, Samira, dari belitan kesulitan ekonomi, terutama karena istri Osman harus masuk rumah sakit. Eddy kemudian mengusulkan sebuah ide kepada Osman ketika mendengar meninggalnya Charlie Chaplin, yakni dengan cara mencuri mayat Chaplin kemudian meminta tebusan kepada keluarganya. Kelucuan demi kelucuan muncul ketika kedua sahabat tersebut berusaha meminta tebusan kepada keluarga Chaplin sambil berusaha menghindari kejaran pihak keamanan.

Dari film itu, kita akan menemukan sekaligus memahami bahwa ironi dalam hidup itu terjadi di mana saja dan kapan saja. Ketika seorang Chaplin yang terkenal meninggal dan dikuburkan, ternyata kematian sang bintang masih bisa dimanfaatkan untuk membangun kesejahteraan orang lain.

Bisakah kita berguna bagi orang lain, bahkan setelah kita mati sekalipun?

MULAI DARI KEBAIKAN KECIL

 

Pernahkah kita berfikir bahwa setiap perbuatan baik kita, apapun bentuknya, dan seberapapun besarnya, selalu memiliki nilai ibadah jika kita lakukan secara ikhlas ? Pernahkah kita berfikir bahwa, setiap pekerjaan yang kita lakukan juga bernilai ibadah ? Bukankah  Allah tidak membeda-bedakan perbuatan kita berdasarkan besar kecilnya perbuatan yang kita lakukan, akan tetapi Allah menilai perbuatan kita berdasarkan keikhlasan dan nilai efek dari perbuatan itu. Perbuatan remeh yang selama ini luput dari perhatian kita, tetapi memiliki efek sosial yang besar, bisa jadi merupakan ibadah yang nilainya tinggi di hadapan Allah, yang suatu saat akan diganjar Allah dalam banyak bentuk.

Ketika saya masih remaja, saya termasuk orang yang paling suka membersihkan dan menata masjid, tempat di mana saya sering ikut shalat berjamaah. Entah kenapa,  secara spontan saya berusaha menyapu, lalu kemudian menata dan membentangkan kain sajadah putih panjang untuk shalat, tepat beberapa saat sebelum shalat Magrib dimulai.  Sekalipun tidak rutin saya lakukan, akan tetapi spontanitas itu selalu muncul begitu saja, ketika saya melihat bahwa masjid tempat kami shalat belum siap. Begitu pula kebiasaan mematikan listrik dan kipas angin di masjid, dan hal itu menjadi kebiasaan sampai sekarang.

Mungkin saat itu, banyak yang menganggap perbuatan itu merupakan perbuatan remeh, karena tokh jika tidak dibersihkan atau ditata, tidak ada orang yang merasa terganggu shalatnya. Anehnya, saya sering sekali ditraktir makan bakso atau ke warung teh dekat masjid kami oleh seorang jamaah, ketika selesai shalat Magrib, tepat ketika sebelum magrib saya membersihkan atau membentangkan sajadah panjang. Apakah ini suatu kebetulan, ataukah karena memang beliau sering memperhatikan perbuatan saya, wallahu’alam. Pada masa kini, saya melihat ada staf saya yang rajin mengurus masjid yang terletak di lingkungan kantor, yang mungkin karena keikhlasannya, ia mendapat rezeki diberangkatkan umroh atau biaya kantor. Tanpa bermaksud untuk takabur atau menyombongkan diri, bisa jadi perbuatan perbuatan kecil yang selama ini kita anggap remeh, akan dinilai Allah dengan ganjaran yang besar dalam berbagai bentuk, asalkan kita lakukan secara ikhlas, tanpa motivasi untuk meminta ganjaran berlipat ganda.

Keikhlasan seharusnya merupakan dasar bagi semua tindakan kita. Dalam sebuah dari Bukhari dan Muslim, pernah diceritakan bahwa ketika turun ayat sedekah, orang orang Islam berlomba-lomba mengangkut barang-barang di atas punggung mereka untuk mendapatkan upah dari jasa mengangkut itu, kemudian hasilnya disedekahkan. Kemudian datanglah seseorang lalu bersedekah dengan sesuatu yang banyak, orang-orang mencela, ‘Ah, ia hanya pamer saja’. Kemudian datang lagi orang lain lalu bersedekah dengan satu sha (sekitar 2,7 kg) kurma, orang-orang mencela, ‘Sebenarnya Allah tidak memerlukan makanan satu sha ini’. Berdasarkan kejadian itu, maka turunlah ayat dalam surah At-Taubah 79 :  “(Orang-orang munafik itu) yaitu orang orang yang mencela orang-orang Mukmin yang memberi sedekah dengan suka rela dan (mencela) orang orang yang memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang orang (munafik) itu menghina mereka, Allah akan membalas penghinaan mereka, dan untuk mereka azab yang pedih. Melalui ayat ini, Allah mencela anggapan orang orang munafik bahwa sedekah yang sedikit tidak ada artinya. Bagi Allah, kebaikan itu tidak dinilai dari segi kualitas, tetapi kuantitas.

Dalam sebuah riwayat pernah juga dikisahkan tentang seorang  seorang pelacur yang diampuni dosa-dosanya oleh Allah, hanya karena ia memberikan air minum dengan menggunakan sepatunya, untuk seekor anjing yang kehausan dan berputar-putar di sekitar sumur. Ini berarti bahwa, dosa dosa besar bahkan dapat terhapus hanya oleh suatu perbuatan kecil dan remeh tetapi memiliki efek yang sangat besar. Ini juga berarti bahwa perbuatan remeh sesederhana apapun, akan tetap memiliki nilai yang tinggi di hadapan Allah, selama perbuatan itu kita lakukan dengan ikhlas.

Dengan demikian, keterbatasan yang kita miliki hendaknya jangan menghalangi kita untuk berbuat baik, karena lading untuk beramal terbuka sangat lebar. Allah maha adil, dan telah menyiapkan lading untuk berbuat baik bagi semua golongan. Jika yang kaya diwajibkan Allah untuk berbuat baik melalui zakat, infaq dan sedekah harta, atau berangkat haji dan umroh karena memiliki kemampuan ekonomi, maka yang memiliki keterbatasan ekonomi diberikan Allah kesempatan untuk berbuat baik dengan cara lain tetapi memiliki nilai ibadah yang sama atau bahkan lebih besar. Rasulullah  sendiri pernah didatangi oleh orang orang fakir Muhajirin, yang mengadu karena tidak memiliki kelebihan harta sehingga tidak mendapat kesempatan untuk bersedekah. Rasulullah kemudian menjawab :  “Bukankah Allah SWT telah menjadikan untukmu sesuatu yang dapat kamu gunakan untuk bersedekah. Sungguh dalam setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir itu sedekah, setiap tahmid itu sedekah, setiap tahlil itu sedekah, memerintahkan kebaikan itu sedekah, mencegah kemungkaran itu sedekah.”

Subhanallah, mari kita mulai niatkan secara ikhlas semua perbuatan kita sebagai wujud pengabdian kita kepada Allah, di manapun dan kapanpun, sehingga semua perbuatan kita akan bernilai ibadah, sekalipun hanya sebuah kebaikan kecil. Insya Allah kebaikan kecil itu akan terus membesar seperti bola salju menjadi kebaikan kebaikan besar yang bermanfaat untuk semua. Amin.

PANTASKAH BERHARAP PAHALA ?

 

Tulisan ini terinspirasi oleh sebuah lagu yang saya download dari Youtube, lagu yang dinyanyikan oleh Rafli, penyanyi asal Aceh yang sempat populer pasca tragedi tsunami. Dalam salah satu baitnya, Rafli berujar, “Bila sujudku padaMu karena takut neraka, bakar aku dengan apinya. Bila sujudku padaMu karena damba surga, tutup bagiku surga itu. Namun bila sujudku demi Kau semata,  jangan palingkan wajahMu, aku rindu menatap keindahanMu”.

Lagu di atas menggambarkan motivasi ibadah kita. Motivasi adalah faktor pendorong yang mendasari tindakan kita dalam mencapai tujuan. Demikian pula halnya dalam beribadah.

Pada kenyataannya, sebagian besar masyarakat kita masih menjadikan imbalan pahala sebagai faktor pendorong dalam beribadah. Sangat sering kita mendengar dalam banyak ceramah maupun tulisan-tulisan tentang agama Islam, bahwa jika mengerjakan ibadah X maka pahalanya sekian, atau jika mengjalankan ibadah Y, maka pahalanya sekian kali lipat, dan seterusnya. Semua pernyataan itu tentu ada dasar hukumnya. Banyak sekali hadits yang menyatakan tentang besarnya imbalan pahala yang kita dapatkan jika kita mengerjakan suatu ibadah. Pertanyaan mendasar yang harus kita tanyakan pada diri sendiri adalah, apakah pencarian pahala itu yang menjadi tujuan dari ibadah kita ? Bukankah Allah SWT berfirman dalam surat Ad-Dzariyat 56 : “Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku”.

Kata ibadah berasal dari bahasa Arab, ‘abdi atau ta’abud yang secara etimologi berarti tunduk, patuh, merendahkan diri, dan hina.  Menurut Yusuf Qardhawy dalam Al-‘Ibadah fie Al-Islam, kata ‘abdi atau ta’abud lebih dimaknai sebagai ketundukan dan kepatuhan serta merendahkan diri di hadapan Allah SWT. Sedangkan Sayyid Quthb dalam Tafsir fi Dzilal Al-Qur’an menyatakan bahwa  ibadah merupakan al-wadhifah al-ilahiyyah, tugas yang diembankan Allah kepada manusia sedemikian rupa sehingga ibadah harus dimaknai sebagai perwujudan fungsi penciptaan manusia. Dengan kata lain, dengan melakukan ibadah, maka manusia telah memfungsikan dirinya sesuai dengan tujuan penciptaannya. Analoginya, sepeda motor diciptakan sebagai alat transportasi. Jika motivasi kita membeli sepeda motor hanya untuk dipajang di depan rumah, maka pembelian itu telah menyebabkan disfungsi dari tujuan penciptaan sepeda motor tersebut.

Sebagai unsur pendorong dalam ibadah, motivasi akan memberikan warna tersendiri dalam perilaku ibadah kita, karena setiap individu mungkin didorong oleh motivasi yang berbeda beda. Sebagian ahli agama membedakan motivasi ibadah ke dalam 5 tingkatan :

Pertama, tingkatan al-mukrohin. Motivasi ini semata-mata didasari pada rasa terpaksa, sebagai wujud dari kewajiban, yang mana ibadah dilaksanakan hanya sekedar menggugurkan kewajiban. Itulah sebabnya motivasi ibadah jenis ini berada dalam tingkatan yang paling rendah. Meskipun demikian, tentu ibadah glongan ini sudah lebih baik daripada mereka yang tidak menunaikan ibadah.

Kedua, tingkatan al-ummal. Motivasi ini didasari pada keinginan untuk mendapatkan penghargaan, status sosial,  atau imbalan tertentu. Rasulullah menggambarkan kelompok ini dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim, bahwa nanti di hari kiamat akan ada sekelompok orang yang datang menghadap Allah dengan banyak kebaikan, tetapi justeru dimasukkan Allah ke dalam neraka. Mereka adalah para   syahid yang gugur di medan perang tetapi motivasinya untuk memperoleh status pahlawan, para cendekiawan dan orang orang berilmu yang motivasinya dalam mengajarkan ilmunya agar disebut ulama, dan orang-orang kaya yang suka bersedekah tetapi motivasinya agar disebut dermawan.

Ketiga, adalah tingkatan at-tujjar. Motivasi ibadah kelompok ini didasari pada keinginan untuk memperoleh imbalan lebih besar. Artinya, ibadah yang dilakukannya didasari pada keinginan untuk memperoleh imbalan yang lebih besar dari Allah, seperti cara fikir orang berdagang. Jika ia bersedekah, maka ia selalu menghitung dan membayangkan bahwa Allah akan membalasnya dengan pahala berlipat ganda, atau mungkin memberikan rizki yang lebih banyak kepadanya. Orang-orang seperti ini termasuk orang-orang yang mencoba berdagang dan berhitung dengan Allah.

Keempat, tingkatan al-muthi’in. Motivasi ibadah kelompok ini semata-mata karena rasa tunduk kepada perintah Allah, bukan karena terpaksa untuk menggugurkan kewajiban, bukan pula dimotivasi untuk memperoleh status dan pujian dari orang lain, serta tidak karena mengharapkan imbalan pahala. Ibadah kelompok ini, dimotivasi oleh rasa pengabdian yang tulus sebagai hamba Allah. Kelompok ini dapat digambarkan sebagai kelompok yang menyatakan ikrar sebagaimana dimaksud surah Al-An’am ayat 162 dan sering kita ucapkan dalam doa iftitah ketika shalat, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan sarwa sekalian alam”.

Kelima, yang merupakan kelompok paling tinggi, adalah tingkatan al-mutaladzidzin. Ibadah pada kelompok ini, dimaknai sebagai sebuah kebutuhan sehingga ia merasa ketagihan. Ada kerinduan yang mendalam untuk melakukan pengabdian kepada Tuhan, ada kegelisahan tiada tara jika ia tidak melakukan ibadah. Ibadah dilakukan karena ingin mendapatkan kenikmatan hakiki berinteraksi dengan Allah.  Ambil contoh dalam tingkatan ini adalah sahabat Rasulullah Abdurrahman bin ‘Auf, yang merupakan salah satu sahabat yang mendapat jaminan masuk surga, yang keranjingan tiada henti menginfaqkan hartanya untuk mereka yang membutuhkan. Rasulullah, yang dijamin oleh Allah untuk masuk surga, terus melakukan shalat sampai akhir hayatnya, bahkan ketika kaki beliau bengkak sehingga sulit duduk untuk bertahiyat.

Dari beberapa tingkatan motivasi ibadah di atas, kita dapat menimbang, di manakah posisi kita masing-masing. Masihkah ibadah yang kita lakukan sehari-hari : shalat, puasa, bahkan bersedekah, didasari pada keinginan mendapatkan pahala dan imbalan dari Allah ? Tidak kah cukup nikmat yang selama ini Allah kucurkan kepada kita ? Allah telah memberi kita kehidupan, memberi kita nafas ratusan ribu kali sehari semalam, memberikan kita rizki. Allah berfirman dalam surah Ar-Rahman, “Nikmat manakah lagi yang engkau hendak dustakan”? Bagaimana cara kita membalas nikmat itu ? Lalu, pantaskah lagi kita mengharap pahala dari ibadah yang kita lakukan ?

« Older Entries Recent Entries »