Anda sedang berada di: Beranda » Diskusi Umum » ADAB MENUNTUT ILMU

Kategori : Diskusi Umum | Kegiatan Mahasiswa |

Pencarian:

Topik: ADAB MENUNTUT ILMU

02-11-2017/15:41:47 WIB
salimah

Website
Pengetahuan ialah di antara factor yang begitu memastikan dalam eksistensi kehidupan manusia. Bahkan juga dalam Al-Qur’an ditegaskan kalau Allah juga akan mengangkat derajat manusia dengan iman serta pengetahuan, sebagaimna firma Nya : “Niscaya Allah juga akan mengangkat beberapa orang yang beriman di anatara kalian serta beberapa orang yang di beri ilmu dan pengetahuan sebagian derajat “ (QS. Al-Mujadillah : 11)

Demikian utamanya pengetahuan dalam eksistensi kehidupan hingga mencari pengetahuan diharuskan buat semua umat islam, seperti yang ditegaskan dalam satu sejarah hadis dari kawan akrab Anas yang berarti : ”menari pengetahuan diharuskan atas kebanyakan orang islam (HR. Al-Baihaqi).

Yaitu supaya seorang berhasil dalam menuntut pengetahuan jadi ada formalitas ataupun tradisi yang digariskan oleh beberapa ‘ulama yang memiliki pengalaman dibidang itu. Salah satu formalitas dalam menuntut pengetahuan yang diketengahkan niat sholat jenazah oleh KH. Hasyi Asy’ari dalam kitab yang berjudul “ Adab al-‘Alim wa al- Muta’alim’ dalam kitab itu beliau kemukakan kalau beberapa penuntut pengetahuan harus lakukan beberapa hal seperti berikut :

Penuntut lmu mesti bersihkan hatinya dari kotoran-kotoran yang dapat menghalangi sinar pengetahuan. Kotoran-kotoran hati itu misalnya : menipu, dusta, berburuk duga, riya’, sum’ah, serta takabur.

Seseorang penuntut pengetahuan mesti menanta tujuannya terlebih dulu. Kemauan dalam mencari pengetahuan yaitu untuk melakukan keharusan yang pada puncaknya yaitu mencari keridhaan Allah, serta janganlah sekali-kali dalam menuntut pengetahuan itu punya niat untuk menari pangkat, jabatan, titel, kehormatan, harta, ataupun pekerjaan, walaupun semuanya dapat dicapai kerana pengetahuan.

Penuntut pengetahuan mesti bergegas serta serius dalam menuntut pengetahuan terlebih pada umur mudanya yang realtif lebih luang serta mungkin. Jangan pernah seseorang penuntut pengetahuan memakai masa mudanya pada beberapa hal yg tidak berguna. Oleh lantaran itu “Menangislah di masa mudamu supaya kau tertawa kelak dimasa tuamu”.

Seseorang penuntut pengetahuan mesti berlaku simpel tidak terlalu berlebih dalam soal makanan ataupun baju. Sebab dengan kesederhanaan ini seseorang beroleh kelapangan dalam peroleh pengetahuan, memantapkan hati dalam meraih impian, dan pancarkan sumber-sumber hikmah.

Seseorang penuntut pengetahuan mesti pintar dalam mengatur saatnya untuk belajar. Dia mesti menggunakan malam harinya untuk membaca serta menghafal, pagi harinya untuk memperdalam kajian, siang harinya untuk menulis, berdiskusi dan rukun haji mengulang sekali lagi apa yang sudah di baca da dihafal semalam. Dalam hal tersebut profil yang perlu dicontoh yakni kawan akrab Rasulullah, Abu Hurairah beliau senantiasa membagi saat malamnya jadi empat jam untuk tidur, empat jam untuk belajar, serta empat jam untuk sholat.

Seseorang penuntut pengetahuan tidak bisa minum dan makan yang terlalu berlebih, bahkan juga sedapt mungkin saja mesti kuranginya. Sebab perut yang penuh oleh makanan juga akan membawa dampak malas belajar. Penegasan KH. Hasyim Asy’ari ini begitu beralasan, sebab perut yang selayaknya diisi tiga komponen : makanan, minuman, serta pernapasan cuma terisi minuman dan makanan saja hingga ruangan untuk bernafas jadi terganggu yang menyebabkan pada sulitnya kreativitas berpikir.

Seseorang penuntut pengetahuan mesti dapat memelihara kehormatan diri (wara’) serta waspada dalam segalanya : memelihara makanan, minuman serta baju dan rumahnya dari hal yang diharamkan. hal imi ditujukan supaya hatinya dapat tenag serta lega hingga dapt meneria sinar pengetahuan.

Seseorang penuntut pengetahuan mesti kurangi tidurnya sepanjang kesehatannya tidak terganggu. Membatasi saat tidur memanglah butuh ditunaikan buat seseorang penuntut pengetahuan, sebab misalnya saat tidur tidak dibatasi jadi kesibukan menuntut pengetahuan jadi terganggu. Sebagai pertimbangan, beberapa pakar medis membagikan saat tidur yang normal sehai-semalam jangka waktu 8 jam.

Sahabat Abu Hurairah seperti yang di sebutkan di atas, beliau cuma membagikan saat untuk tidur sepanjang empat jam sehari-semalam, serta mengandekan saat belajar juga sepanjang empat jam, hingga wajar misalnya beliau termasuk juga kawan akrab yang paling banyak meriwayatkan hadis dibandingkan sahabat-sahabat yang beda.

Alangkah produktifnya misalnya penyusunan belajar kita contoh dari Abu Hurairah itu. Profil beda yaitu (seseorang ilmuan serta filusuf muslim dari spanyol) yang menulis dalam otobiografinya “saya tidak sempat berhenti belajarsetiap malam terkecuali dua malam saja ; yakni malam kematian bapak saya serta malam pertama pernikahan saya” dari uraian di atas mampu disarikan kalau seseorang penuntut pengetahuan yang menginginkan meraih berhasil dia mesti mengagendakan saat belajarnya yang cukup.

0 Tanggapan :

<< First | < Prev | 1 | Next > | Last >>

Anda harus Login dulu untuk bisa berdiskusi.
Atau Anda juga bisa Daftar dulu menjadi anggota forum.